ONDONG – Nama suatu tempat biasanya diabadikan karena sebuah kejadian atau ciri khas tempat tersebut. Adakalanya kejadian atau ciri khas itu hanya cerita rakyat saja. Namun, ada pula benar adanya.

Desa Pehe di Kecamatan Siau Barat memiliki cerita asal-usulnya berdasarkan ciri khas tempat tersebut.

Zaman dahulu masyarakat di Desa Pehe sangat erat kepercayaan mereka dengan benda mistik. Tak heran, warga dikenal memiliki jimat atau azimat sakti yang disebut Papehe.

Penjabat Kapitalau (Kepala Desa) Pehe Vivi Mananggel, mengatakan, Papehe adalah sebuah jimat berupa secarik kain berwarna merah yang memiliki kekuatan gaib untuk diikat di kepala atau di lengan pemiliknya.

“Warga yang mengunakan Papehe akan kebal terhadap serangan benda tajam,” beber Vivi, Selasa (01/03/2022).

Menurut dia, Papehe digunakan oleh warga untuk melawan ancaman bangsa Mindano (Magindano) dari Filipina yang mencoba menganggu ketentraman warga.

Penjabat Kapitalau Pehe Vivi Mananggel (keempat dari kanan), bersama dengan perangkat desa. (FOTO: Istimewa)

“Dari dahulu Pantai Pehe sudah menjadi pelabuhan. Sehingga menjadi pintu masuk bangsa Mindano untuk mengusik ketentraman warga. Setiap penduduk yang berperang akan memakai kain tersebut diikat di kepala dan di lengan, maka dia akan kebal terhadap serangan benda tajam. Warga berhasil mengusir bangsa Mindano,” ucapnya lagi.

Kemudian, lanjut Vivi, karena kehebatan jimat Papehe ini mulai dikenal warga lainnya. Sehingga menjadi cikab bakal nama desa tersebut.

“Dinamakan Pehe diambil dari kata Papehe yang diartinya kekuatan. Seiring masuknya ajaran Kristen di Pulau Siau membuat keberadaan Papehe mulai ditinggalkan warga. Jika pun ada, hanya segelintir orang saja,” urainya.

Vivi menambahkan, konon Desa Pehe pernah menjadi ibukota Kerajaan Siau. Kala itu, masa pemerintahan raja Wuisan. Wuisan memindahkan ibukota kerajaan dari Paseng ke Pehe.

Akan tetapi, sepeninggal raja Wuisan, tampuk kerajaan dipimpin oleh raja Winsulangi. Oleh Winsulangi kemudian memindahkan lagi ibukota ke Ondong.

“Dahulu Pehe merupakan bagian dusun III dari Ondong. Pada 17 April 2004, Desa Pehe resmi memekarkan dari Ondong. Kapitalau pertama adalah Hopni Minggu,” pungkasnya.

Sekadar referensi, saat ini Desa Pehe memiliki penduduk 156 kepala keluarga atau 484 jiwa. Adapun mata pencaharian warga didominasi oleh nelayan. Desa tersebut berbatasan dengan Desa Kanawong di bagian utara dan bagian selatan adalah Kelurahan Ondong.(Jackmar Tamahari)