ONDONG – Kualitas komoditi pala asal Pulau Siau Kabupaten Sitaro diklaim nomor satu di dunia. Tak heran, emas hitam tersebut menjadi sumber perekonomian warga untuk menopang biaya hidup sehari-hari.

Keberadaan perkebunan pala bisa dijumpai di setiap wilayah bumi Karangetang. Meski demikian, banyak warga yang tidak mengetahui secara pasti asal-muasal emas hitam tersebut.

Anekdot yang berkembang dari mulut ke mulut malah mengatakan asal-muasal pala Siau dari negara di Amerika Tengah yaitu Guatemala.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Sitaro Richard Sasombo, menjelaskan, tanaman pala di Kepulauan Siau adalah jenis Myristica Frangrans Houtt yang memiliki kualitas dan produktifitas tinggi.

Dia menuturkan, asal-muasal pala Siau adalah dari Kepulauan Maluku khususnnya Kepulauan Banda yang masuk melalui hubungan Siau-Ternate.

“Dahulu para leluhur sering berlayar ke Ternate dengan tujuan berdagang. Pulang dari Ternate mereka membawa bibit tanaman Pala,” beber Sasombo, Selasa (08/03/2022).

Menurut Sasombo, mengungkapkan, berdasarkan dari aspek historis sistem pemerintahan kerajaan Siau pernah dalam kurung waktu lalu sempat tunduk dan menjadi bagian wilayah kekuasaan pemerintahan kesultanan Ternate.

“Dari keadaan tersebut berpengaruh pada aspek intensitas dan frekuensi mobilitas warga Siau ke Ternate. Bibit pala yang dibawa pulang serta ditanam tumbuh subur di Pulau Siau sampai saat ini,” ucapnya lagi.

Sasombo menyebutkan, saat ini Indonesia merupakan negara penghasil pala terbesar ke-1 di dunia mengungguli Grenada.

“Sekira 60% penghasil pala di Indonesia adalah berasal dari Sulawesi Utara. Adapun yang paling banyak dari Kabupaten Sitaro.”

“Untuk Pulau Siau kualitas pala terbaik yaitu dari wilayah Kecamatan Siau Timur karena memiliki kandungan minyak atsiri yang tinggi,” pungkasnya.

Sekadar referensi, saat ini pedagang pengumpul menetapkan harga pala A (kualitas terbaik) sekira Rp71 ribu per kg. Adapun harga fuli sekira Rp220 per kg.(Jackmar Tamahari)