Rilis Hasil Survei, OJK: Inklusi dan Literasi Keuangan Masyarakat Indonesia Semakin Baik

oleh -1483 Dilihat
Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi Perlindungan Konsumen, Friderica Widyasari Dewi. (FOTO: istimewa)

JAKARTA – Dalam rangka mengukur indeks literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali menyelenggarakan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2022. 

SNLIK 2022 dilaksanakan mulai Juli hingga September 2022 di 34 provinsi yang mencakup 76 kota/kabupaten dengan jumlah responden sebanyak 14.634 orang yang berusia antara 15 s.d. 79 tahun. 

SNLIK 2022 menggunakan metode, parameter dan indikator yang sama dengan tahun 2016 dan 2019, yaitu indeks literasi keuangan yang terdiri dari parameter pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap dan perilaku, sementara indeks inklusi keuangan menggunakan parameter penggunaan (usage). 

Hasil SNLIK 2022 menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 49,68 persen, naik dibanding tahun 2019 yang hanya 38,03 persen. 

Sementara indeks inklusi keuangan tahun ini mencapai 85,10 persen meningkat dibanding periode SNLIK sebelumnya di tahun 2019 yaitu 76,19 persen. 

“Hal tersebut menunjukkan gap antara tingkat literasi dan tingkat inklusi semakin menurun, dari 38,16 persen di tahun 2019 menjadi 35,42 persen di tahun 2022,” beber Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi Perlindungan Konsumen, Friderica Widyasari Dewi.

Menurut Friderica yang kerap disapa Kiki inii, semakin mengecilnya selisih indeks menunjukkan masyarakat semakin paham tentang keuangan dan tidak hanya ikut-ikutan saja. 

Meskipun literasi dan inklusi keuangan semakin baik, masih saja terjadi kasus-kasus penipuan yang berkedok investasi. Contohnya, yang baru saja terjadi sejumlah mahasiswa di Institut Pertanian Bogor terjerat penipuan berkedok toko online dengan tawaran imbalan dari transaksi. 

“Produk pinjaman itu resmi tetapi masuk ke rekening pelaku penipuan berkedok investasi. Edukasi keuangan perlu menjadi keterampilan dasar, essential life skill yang perlu dimiliki semua orang tanpa kecuali,” tegas Kiki. 

Makanya, OJK sendiri sebagai regulator juga terus berupaya mengerahkan edukasi. Hal tersebut dilakukan baik secara offline, online, melalui kampanye nasional secara masif dan penguatan sinergi dan aliansi strategis. 

Adapun lebih lanjut terkait hasil SNLIK 2022, dari sisi gender, untuk pertama kalinya, indeks literasi keuangan perempuan lebih tinggi yakni sebesar 50,33 persen dibanding laki-laki 49,05 persen. 

Pada tahun 2020 sampai dengan tahun 2022, OJK menjadikan perempuan sebagai sasaran prioritas dalam arah strategis literasi keuangan. 

Di sisi lain, indeks inklusi keuangan laki–laki lebih tinggi yakni sebesar 86,28 persen, dibanding indeks inklusi keuangan perempuan di angka 83,88 persen.

Peningkatan indeks literasi dan inklusi keuangan merupakan hasil kerja sama yang terjalin baik antara OJK, Kementerian/lembaga terkait, Industri Jasa Keuangan dan berbagai pihak lainnya.

Baik dalam wadah Dewan Nasional Keuangan Inklusif maupun Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) yang jumlahnya mengalami kenaikan dari 171 di tahun 2019 menjadi 462 TPAKD di tahun 2022. 

Pandemi di awal tahun 2020 menjadi salah satu pendorong untuk mengakselerasi transformasi digital dalam edukasi keuangan yang memungkinkan edukasi keuangan dilakukan secara lebih masif dan borderless. 

Bauran strategi edukasi keuangan secara tatap muka (luring) dan daring maupun penguatan aliansi strategis akan menjadi strategi kunci dalam mengakselerasi peningkatan literasi dan inklusi keuangan. 

“Hasil SNLIK 2022 menjadi salah satu faktor utama bagi OJK dan pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun kebijakan, strategi, dan merancang produk/layanan keuangan 3 yang sesuai kebutuhan konsumen serta dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelas Kiki.

 

Fokus OJK di 2023

Di tahun 2023, fokus OJK untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia tertuang dalam Arah Strategis Literasi Keuangan Tahun 2023 adalah Membangun Literasi Keuangan Masyarakat Desa.

Melalui Aliansi Strategis dengan Kementerian/Lembaga Terkait, Perangkat Desa dan penggerak PKK Desa, dan Mahasiswa KKN. 

Sasaran prioritas literasi keuangan tahun 2023 adalah pelajar/santri, UMKM, penyandang disabilitas dan masyarakat daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal). 

Sedangkan sasaran prioritas inklusi keuangan tahun 2023 adalah segmen perempuan, pelajar, mahasiswa dan UMKM, masyarakat di wilayah pedesaan, dan sektor jasa keuangan syariah. (Fernando Rumetor)