Unik! Ibu-ibu Desa Tiwoho Olah Mangrove Jadi Keripik hingga Teh

oleh
Ketua Kelompok Sarimunte, Amina Binsijek saat memperlihatkan olahan mangrove yang dijadikan kerupuk. (FOTO: Fernando Rumetor)

MINUT – Tanaman mangrove yang selama ini diketahui banyak orang sebagai tanaman yang berguna melindungi garis pantai dari erosi ternyata juga bisa diolah menjadi berbagai olahan makanan maupun minuman.

Ditangan ibu-ibu di Desa Tiwoho, Kabupaten Minahasa Utara, yang tergabung dalam Kelompok Sarimunte, tanaman mangrove mampu diolah menjadi kudapan keripik, kerupuk serta minuman teh.

“Awalnya hanya untuk konsumsi sendiri, tetapi sekarang kami mencoba untuk bisa mengolahnya menjadi produk yang bisa dijual dan dinikmati banyak orang,” tutur Ketua Kelompok Sarimunte, Amina Binsijek.

Kata Amina, bahan baku mangrove di Desa Tiwoho memang cukup melimpah, mengingat desa ini berada di pesisir pantai dan tanaman mangrove sudah ada sejak lama

Berbekal pelatihan pengolahan mangrove serta pelatihan wirausaha dari LSM Perkumpulan Kelola, Aminah bersama 9 orang lainnya membulatkan tekad membuat Kelompok Sarimunte.

Berdiri sejak bulan Juni lalu, kini Kelompok Sarimunte sudah bisa mengolah salah satu tanaman mangrove yang bernama Sarimunte atau Daun Jeruju menjadi keripik, kerupuk serta olahan teh.

Kelompok Sarimunte di Desa Tiwoho, Minut yang mengolah mangrove menjadi keripik, kerupuk, hingga minuman teh. (FOTO: Fernando Rumetor)

“Memang saat ini baru di awal-awal, tapi kami berharap kedepannya kami bisa lebih berkembang dan pemasaran produk ini bisa lebih luas lagi,” tutur Amina.

Amina menyebut saat ini yang menjadi fokus ialah mengurus berbagai perizinan serta melakukan tes laboratorium dari keamanan serta khasiat dari produk olahan mereka.

“Sudah banyak orang yang bertanya-tanya untuk membeli ini bahkan menawarkan kami untuk ikut di bazzar, tapi kami belum berani karena masih mengurus izin,” sebutnya.

Selain izin produk, Kelompok Sarimunte bakal mengembangkan produk kemasan agar terlihat unik dan menarik, serta memenuhi standar pasar.

Amina pun berharap agar kedepannya produk olahan mereka ini bisa dijadikan sumber mata pencarian ibu-ibu di Desa Tiwoho dan bisa dikenal orang banyak. (Fernando Rumetor)