MANADO – Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) resmi ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan Paskah Nasional 2026. Perhelatan akbar yang akan dipusatkan di kawasan Megamas, Manado, pada 8 April mendatang ini diprediksi akan menjadi momen kebangkitan spiritual sekaligus penggerak ekonomi daerah.

Penunjukan Bumi Nyiur Melambai merupakan kepercayaan besar setelah absen menyelenggarakan event religi berskala nasional selama hampir delapan tahun.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Panitia Paskah Nasional 2026, Irjen Pol. Dr. Roycke Harry Langie, dalam bincang-bincang podcast “Mata Bicara” yang dipandu Amanda Komaling pada episode ‘Persiapan Paskah Nasional 2026 Rampung, PBB dan Ratusan Pejabat Tinggi Akan Hadir di Manado‘ yang dapat dilihat pada link berikut ini.

“Ini adalah tanggung jawab besar. Kami ingin menunjukkan bahwa Sulawesi Utara mampu menghadirkan acara berkualitas, terukur, dan menjadi laboratorium toleransi beragama bagi Indonesia,” ujar Irjen Pol. Dr. Roycke Harry Langie.

Konsep “Laboratorium Toleransi” dan Budaya Lokal
​Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Paskah Nasional kali ini akan memadukan prosesi ibadah dengan Pagelaran Kebangsaan. Panitia akan menampilkan kearifan lokal dari tiga etnis besar di Sulut, yakni Minahasa, Sangihe, dan Bolaang Mongondow.

Irjen Pol. Dr. Roycke Harry Langie menekankan pentingnya kaderisasi budaya dalam acara ini. “Kami melibatkan musik bambu dan kolintang. Saya melihat pemain musik tradisional kita rata-rata sudah di atas 50 tahun. Melalui event ini, kita ingin generasi muda kembali mencintai budaya sendiri,” tambahnya.

Kehadiran Tokoh Nasional dan Internasional
​Acara ini diperkirakan akan menyedot perhatian sekitar 70.000 jemaat dari berbagai denominasi gereja di seluruh Indonesia. Selain itu, sekitar 600 pejabat tinggi negara, anggota kabinet, serta tokoh TNI/Polri telah mengonfirmasi kehadiran mereka.

Menariknya, Irjen Pol. Dr. Roycke Harry Langie juga membocorkan adanya ketertarikan dari pihak United Nations (PBB) untuk berkolaborasi dalam acara kali ini.

“Dunia sedang memanas secara global. Dari Manado, kita ingin memancarkan pesan sejuk dan perdamaian. Pihak UN bahkan telah menghubungi untuk mendiskusikan pesan perdamaian internasional melalui momentum ini,” ungkap Kapolda Sulut itu.