MANADO – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi di Provinsi Sulawesi Utara pada Maret 2026 sebesar 0,25 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).
Angka ini lebih rendah dibandingkan Februari 2026, namun tetap menunjukkan adanya kenaikan harga di sejumlah komoditas utama.
Kepala BPS Sulut, Agus Sudibyo, dalam rilis resmi, Rabu (1/4/2026), menyampaikan bahwa inflasi bulan Maret masih didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil terbesar.
“Secara umum terjadi inflasi sebesar 0,25 persen pada Maret 2026. Komoditas utama yang mendorong inflasi antara lain cabai rawit, angkutan udara, dan bawang merah,” ujar Agus.
Secara rinci, cabai rawit menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,18 persen, diikuti angkutan udara sebesar 0,08 persen, serta bawang merah 0,07 persen.
Selain itu, ikan cakalang/ikan sisik dan ikan malalugis juga turut memberikan kontribusi terhadap kenaikan harga.
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi, seperti tomat dengan andil deflasi sebesar 0,31 persen, diikuti daun bawang (-0,08 persen) dan mobil (-0,03 persen).
Secara tahun kalender (year-to-date), inflasi Sulut hingga Maret 2026 tercatat sebesar 1,95 persen. Sementara secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi mencapai 2,20 persen.
“Inflasi tahunan ini masih relatif terkendali, meskipun terdapat beberapa kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan cukup tinggi, seperti perawatan pribadi dan jasa lainnya,” jelas Agus.

