Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi terbesar secara tahunan terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 12,90 persen, disusul pendidikan 9,67 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 5,95 persen.

Dari sisi wilayah, inflasi tertinggi secara bulanan terjadi di Kota Kotamobagu sebesar 0,72 persen, dengan cabai rawit sebagai pendorong utama.

Sementara itu, Kota Manado mengalami inflasi 0,32 persen dan Kabupaten Minahasa Selatan 0,41 persen. Berbeda dengan daerah lainnya, Kabupaten Minahasa Utara justru mengalami deflasi sebesar 0,35 persen.

Untuk inflasi tahunan, Kota Manado mencatat angka tertinggi sebesar 3,38 persen, sedangkan deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Minahasa Utara sebesar 0,31 persen.

Agus menambahkan, dinamika harga pangan masih menjadi faktor dominan dalam pembentukan inflasi di Sulawesi Utara.

“Pergerakan harga komoditas pangan, khususnya cabai rawit, masih menjadi faktor utama yang memengaruhi inflasi di daerah,” tutur Agus.

“Oleh karena itu, stabilisasi pasokan dan distribusi menjadi kunci pengendalian inflasi ke depan,” pungkasnya. (nando)