JAKARTA — Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 26 Mei 2026 menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) tetap terjaga di tengah meningkatnya inflasi global dan volatilitas pasar keuangan internasional.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyebut konflik geopolitik yang berlanjut di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama tekanan global saat ini.

Kondisi tersebut membuat harga energi tetap tinggi dan memperburuk tekanan inflasi global, sekaligus memperkuat ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer), sehingga mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah di berbagai negara.

Di dalam negeri, aktivitas ekonomi menunjukkan perkembangan yang bervariasi.

Dari sisi penawaran, kinerja sektor manufaktur kembali ekspansif pada Mei 2026. Dari sisi permintaan, aktivitas ekonomi domestik relatif terjaga. Inflasi memang meningkat pada Mei 2026 seiring tekanan harga energi global, namun masih berada di level terkendali.

Neraca perdagangan pun masih mencatatkan surplus, meski menurun dibandingkan periode sebelumnya.

“Sejalan dengan perkembangan tersebut, kinerja sektor jasa keuangan tetap solid. Intermediasi keuangan tumbuh positif dengan solvabilitas yang terjaga pada level tinggi,” kata Friderica, akhir pekan lalu.

Di pasar modal, IHSG mengalami fase konsolidasi sepanjang Mei 2026 di tengah tingginya ketidakpastian global dan penyesuaian portofolio investor.

Indeks ditutup pada level 6.127,38, terkoreksi 11,92 persen secara month-to-month (mtm) atau 29,14 persen secara year-to-date (ytd).

Meski demikian, likuiditas pasar modal domestik dinilai tetap terjaga. Rata-rata bid-ask spread tercatat sebesar 1,50 persen, sedikit melebar dari 1,33 persen pada April 2026.

Sementara itu, Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) justru melonjak menjadi Rp22,86 triliun dari Rp18,51 triliun pada bulan sebelumnya.

Adapun investor asing membukukan net sell sebesar Rp4,10 triliun, jauh berkurang dibanding April 2026 yang mencapai Rp17,02 triliun. (nando/*)