MANADO – Inflasi tahunan (year on year/yoy) Sulawesi Utara pada Oktober 2026 mencapai 8,07 persen.

Angka tersebut jauh melampaui sasaran inflasi 2,5 persen ± 1 persen, atau kisaran 1,5–3,5 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender sampai Oktober 2026 tercatat 7,96 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama tekanan harga secara tahunan.

Kelompok ini mengalami inflasi 17,79 persen dengan andil 5,48 persen, sehingga hampir seluruh inflasi tahunan di daerah ini bersumber dari kelompok tersebut.

Kelompok Transportasi berada di urutan kedua dengan inflasi 7,28 persen dan andil 0,89 persen. Disusul Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan inflasi 5,34 persen dan andil 0,35 persen.

Cabai Rawit, Angkutan Udara, dan Tomat

Pada level komoditas, cabai rawit mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 2,63 persen. Posisi berikutnya ditempati angkutan udara dengan 0,49 persen dan tomat 0,31 persen.

Di sisi lain, sejumlah komoditas justru mengalami deflasi dan menahan laju inflasi tahunan, yakni sabun mandi -0,03 persen, sabun mandi cair -0,03 persen, dan bawang merah -0,02 persen.

Secara Bulanan Melandai

Meski inflasi tahunan masih tinggi, laju kenaikan harga secara bulanan mulai mereda. Inflasi Sulut pada Oktober 2026 tercatat 0,57 persen (mtm), turun dari 3,53 persen pada September 2026.

Kepala BPS Sulawesi Utara, Watekhi, menjelaskan bahwa kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau juga masih menjadi penyumbang terbesar pada inflasi bulanan.

“Kelompok yang memberikan andil inflasi terbesar masih dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Pada bulan Oktober 2026, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami inflasi 1,26 persen, dan memberikan andil inflasi mencapai 0,46 persen, dari total inflasi 0,56 persen,” kata Watekhi, Senin (02/11/26).

Menurut Watekhi, komoditas penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah tomat 0,39 persen, cabai merah 0,07 persen, dan cabai rawit 0,05 persen. Adapun ikan tude/selar (-0,12 persen), ikan malalugis (-0,08 persen), dan ikan cakalang (-0,06 persen) menjadi penahan inflasi. (nando)