DI sudut Kampung China, Kota Manado, aroma kopi semerbak menyeruak dari sebuah mobil Kijang keluaran tahun 90-an yang telah disulap menjadi tempat ngopi unik di pinggir jalan. Tempat itu bernama Andalan Kopi, yang kini menjadi salah satu spot nongkrong favorit anak muda.

Di balik kemudi yang kini berubah menjadi meja kasir, Christian Sagiman, yang akrab disapa Tian, tampak sibuk memantau transaksi pembeli. Lulusan jurusan Arsitektur ini memilih banting setir menjadi wirausahawan, membangun bisnis kopi kreatif bersama tiga temannya.

Seiring berkembangnya teknologi, Tian bersama teman-temannya mulai memanfaatkan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) untuk memudahkan pembayaran pelanggan.

“Sekarang semua serba mudah. Pakai QRIS, uang masuk langsung terkumpul. Cuma ya, biasanya nunggu sampai periode tertentu sebelum benar-benar masuk ke rekening,” ujar Tian yang mendapat tugas mencatat transaksi hingga pembukuan setiap bulannya.

Tian bercerita bahwa awalnya sempat bingung dengan sistem pembayaran digital ini. Dulu, semua transaksi dilakukan tunai. Uang langsung di tangan, tak perlu menunggu. Tapi sejak banyak pelanggan meminta opsi pembayaran nontunai, mereka memutuskan untuk mencoba QRIS—satu kode untuk semua dompet digital dan bank.

Pelanggan Andalan Kopi membayar kopi yang dibeli menggunakan QRIS. (FOTO: Fernando Rumetor)

“Kalau dulu orang mesti punya rekening yang sama, sekarang lewat QRIS mau dari BNI, BCA, atau dompet digital apa saja bisa. Tidak ribet,” tambahnya sambil tersenyum.

Namun, dibalik kemudahan itu ada proses yang harus dipahami. Uang dari transaksi QRIS biasanya masuk secara berkala, tergantung periode settlement dari bank atau penyedia layanan.

“Misalnya pakai merchant BCA, nanti semua transaksi selama periode tertentu akan disatukan, baru masuk ke rekening. Jadi tidak langsung per transaksi,” jelas pemuda kelahiran 15 Desember 1997 ini.

Bagi para pedagang kecil, sistem ini membawa banyak manfaat. Mereka tidak perlu lagi menghitung uang tunai setiap hari atau khawatir soal uang kembalian.

Selain itu, pembukuan untuk kafe yang buka sejak pukul 20:00 WITA hingga 02:00 WITA ini pun jadi lebih rapi karena data transaksi sudah otomatis tercatat di aplikasi.

Berkat inovasi dan pelayanan yang ramah, omzet Andalan Kopi kini bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulannya. Sekitar 50 persen pelanggan Andalan Kopi sudah menggunakan QRIS, sementara sisanya masih setia dengan uang tunai. Tian yakin, seiring waktu, pembayaran digital akan semakin mendominasi.

“Awalnya saya pikir ribet, tapi sekarang malah memudahkan. Pelanggan senang karena praktis, saya juga terbantu karena catatan keuangan jadi lebih jelas dan tertata rapi,” ungkapnya.

Jadi Bagian Tak Terpisahkan, QRIS Dorong Pertumbuhan Ekonomi Bumi Nyiur Melambai

Sejak diluncurkan Bank Indonesia (BI) pada 17 Agustus 2019, pembayaran transaksi menggunakan QRIS makin memudahkan hidup masyarakat. QRIS pun telah menjelma menjadi gaya hidup dan bagian tak terpisahkan dalam aktivitas transaksi masyarakat di Sulawesi Utara.

Kantor Perwakilan BI Sulut mencatat hingga Juni 2025, jumlah pengguna QRIS telah mencapai 503.301 orang, atau sekitar 28% dari penduduk usia produktif. Perkembangan ini menunjukkan masyarakat Sulut semakin adaptif dalam menyambut era digitalisasi pembayaran.

Total transaksi QRIS di Bumi Nyiur Melambai hingga Juni 2025 pun tercatat telah menembus 27 juta transaksi dengan nilai sekitar Rp3 triliun, didukung oleh 332.045 merchant yang sudah terhubung dengan QRIS.

Adopsi QRIS juga semakin meluas ke berbagai sektor, mulai dari program ETPD (Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah), transportasi, pariwisata, sosial-keagamaan, hingga usaha mikro kecil. Hal ini semakin menguatkan peran QRIS sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara.

Kendati demikian, Deputi Kepala Perwakilan BI Sulut, Darmawan T. B. Hutabarat mengingatkan bahwa peningkatan literasi digital dan keamanan transaksi masih menjadi tantangan kedepan.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya tahu cara menggunakan QRIS, tetapi juga memahami risikonya serta mampu bertransaksi dengan bijak. Dengan begitu, digitalisasi pembayaran dapat benar-benar memberi manfaat luas bagi ekonomi daerah,” tegasnya.

50 persen transaksi di Andalan Kopi kini sudah menggunakan QRIS. (FOTO: Fernando Rumetor)

Menurut Darmawan, setiap transaksi digital menggunakan QRIS bukan sekadar soal kemudahan, melainkan juga bentuk dukungan pada perekonomian Indonesia.

“Digitalisasi pembayaran bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang membangun kepercayaan dan kebiasaan baru. Setiap kali kita menggunakan QRIS, kita sedang berkontribusi pada perekonomian yang lebih efisien, transparan, dan modern,” bebernya.

Penguatan Implementasi QRIS pada Generasi Muda

BI Sulut terus mendorong penguatan implementasi QRIS di kalangan generasi muda, khususnya melalui perguruan tinggi di Bumi Nyiur Melambai.

Kepala Perwakilan BI Sulut, Joko Supratikto, mengungkapkan bahwa sosialisasi penggunaan QRIS secara aktif telah dilakukan di lingkungan kampus. “Sosialisasi QRIS kami fokuskan kepada generasi muda, karena mereka cepat beradaptasi dengan teknologi digital,” ujarnya.

Pada tahun ini, BI Sulut telah mengimplementasikan QRIS di dua perguruan tinggi, yaitu Universitas Negeri Manado (Unima) dan Universitas De La Salle. Langkah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan layanan keuangan digital secara lebih luas di Sulut.

“Kami optimis, edukasi dan pemanfaatan QRIS sejak usia muda akan mempercepat transformasi digital di sektor pembayaran,” sebut Joko.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa masyarakat Sulut makin terbuka terhadap pembayaran digital, tak hanya di kota besar tapi juga hingga ke usaha-usaha mikro seperti Andalan Kopi.