MANADO — Bank Indonesia (BI) bersama Direktorat Jenderal Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara (DJBC Sulbagtara) dan KPPBC TMP C Bitung menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka persiapan program Direct Call Bitung–China yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Juni 2026.

Forum yang melibatkan unsur Regulator, Perbankan, Akademisi, dan Pelaku Usaha di Sulawesi Utara itu bertujuan memperoleh pemahaman komprehensif sekaligus masukan strategis guna mendukung keberhasilan program tersebut.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut, Joko Supratikto, dan dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Kanwil DJBC Sulbagtara yang diwakili oleh Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai, Adeltus Lolok.

Sesi diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kepala KPPBC TMP C Bitung Didit Prayudi Sidharta, Terminal Head PT Pelindo TPK Jusri, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulut Hermina Syaloom D. Korompis.

Hadir juga Pimpinan BNI Kantor Cabang Bitung Donny Sekeon, serta Vice President Bank Mandiri Sulut Gorontalo Raden Darojat Wirabuana.

Dalam sambutannya, Joko Supratikto menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Sulut sebesar 5,54% (yoy) pada triwulan I 2026 menunjukkan tren yang relatif stabil, namun masih dapat diakselerasi lebih tinggi.

Ia menyebut lima strategi akselerasi, yakni penguatan digitalisasi daerah, akselerasi ekspor dan impor produktif, hilirisasi komoditas unggulan ekspor, pengembangan pariwisata sebagai sumber pertumbuhan, serta peningkatan kualitas investasi.

“Program Direct Call Bitung–China menjadi salah satu katalis pertumbuhan ekonomi Sulut dalam meningkatkan efisiensi biaya transportasi, percepatan waktu logistik, memperluas akses pasar guna memperkuat daya saing komoditas unggulan,” ujar Joko Supratikto.

Sementara itu, Adeltus Lolok menegaskan bahwa Direct Call Bitung–China tidak sekadar dipandang sebagai jalur ekspor langsung, melainkan juga sebagai langkah strategis dalam membangun ekosistem ekspor kawasan yang lebih efisien, terintegrasi, dan berdaya saing.

Manfaatnya pun diharapkan tidak hanya dirasakan Sulawesi Utara, tetapi juga wilayah sekitar seperti Gorontalo dan Maluku Utara.

DJBC juga menyampaikan komitmennya untuk mendukung keberlanjutan program Direct Call melalui edukasi dan pendampingan kepada pelaku ekspor. (nando/*)