Berburu Internet Telkomsel Hingga ke Pekuburan Umum di Desa Watulaney Amian, Minahasa, Sulawesi Utara

oleh -
Masyarakat saat mencari internet Telkomsel di pekuburan umum, di Desa Watuaney Amian, Minahasa, Provinsi Sulut, Rabu (26/12/2018). (FOTO: Valentino Warouw)

INTERNET menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi masyarakat Desa Watulaney Amian, Kecamatan Lembean Timur, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.

Rabu, (26/12/2018) tim www.sindomanado.com  berjumlah lima orang berkunjung ke desa tersebut, dalam rangka kunjungan hari natal atau pasiar natal sapaan akrab masyarakat Provinsi Sulawesi Utara. Jarak desa tersebut 60,2 KM dari Zero Poin Kota Manado.

Hari itu, Pukul 16.00 Wita bersama dengan tim tiba di desa tersebut, kaget telepon genggam yang masing-masing kami bawa tidak memiliki internet hanya ada sinyal untuk telepon, pun itu sering mati.

Gambar yang ada di layar telepon genggam tidak ada tanda-tanda H+ dan 4G. Saat itu memang provider yang kami pakai adalah Telkomsel, karena dikenal sinyal dan internetnya bagus.

Setiba di desa itu langsung mengunjungi rumah salah satu teman kami, letaknya di tengah kampung. Saat duduk dirungan tamu, seorang dari tim kami Joudy Mewengkang bertanya terkait internet Telkomsel di desa tersebut. “Bagaimana dengan internet di desa ini?,” tanya dia, sambil melihat telepon genggam yang dipegangnya.

Seorang warga Desa Watulaney Amian, Ryando Kirojan mengatakan, di desa ini harus menggunakan provider Telkomsel kalau ingin memiliki sinyal telepon dan memiliki internet untuk mengakses media sosial dan permainan yang ada di telepon genggam. Karena provider lain tidak akan ada sinyal di desa ini.

“Masyarakat harus mencari lokasi yang tepat untuk mendapatkan internet dan lokasi yang paling tepat bertempat di pekuburan umum desa ini,” ujar dia.

Masyarakat saat swafoto untuk mengabadikan pekuburan umum sebagai tempat mencari internet Telkomsel di desanya. (FOTO: Valentino Warouw)

Lanjut dia, pekuburan umum ini sangat ramai setiap hari pada waktu malam hingga larut malam, dimana juga tempat kumpul masyarakat desa jika ingin mengakses internet terutama anak-anak muda dan para gamers.

“Internet memang sangat sulit dicari di desa kami. Tapi dengan adanya Telkomsel kami bisa mengakses internet walau harus ke pekuburan umum hingga larut malam,” terang dia.

Dia menambahkan, jaringan yang bisa didapat di desa kami dengan berlokasi di pekuburan umum yakni H+ dan 4G, ini sangat luar biasa.

“Setelah bisa terhubung dengan internet, saya bersama teman-teman harus berjam-jam duduk di atas kubur sambil mengakses sosial media dan permainan,” tambah dia.

Tidak percaya dengan ceritanya, kami tim www.sindomanado.com meminta untuk di antarkan ke pekuburan umum tersebut untuk berburu internet Telkomsel.

Sore itu, Pukul 17.00 Wita tim kami tiba di pekuburan umum, jaraknya sekira 1 KM dari desa tersebut. Memang benar, lokasi pekuburan umum tersebut tampak ramai dengan masyarakat dan terutama anak-anak muda yang sedang asik mengakses internet melalui telepon genggam pinter mereka.

Kami pun melihat ke layar telepon genggam dan benar internet yang ada dan bisa kami akses yakni internet H+ dan kadang 4G dari Telkomsel dengan kecepatan yang cukup cepat untuk mengakses sosial media dan permainan.

“Dengan bisa mengakses internet kami masyarakat desa disini tidak akan ketinggalan informasi-informasi yang terjadi di Provinsi Sulawesi Utara dan nasional bahkan internasional, serta bisa mengetahui pemberitaan-pemberitaan media yang terjadi di dunia,” beber Ryando Kirojan.

Dia berharap, kiranya Telkomsel bisa menambah alat di desa ini agar masyarakat untuk mengakses internet tidak lagi pergi ke pekuburan umum hinga larut malam.

“Saya ingin sekali bisa mengakses internet dari dalam rumah saya sendiri, tidak lagi ke pekuburan umum. Karena bagi saya internet sangatlah penting dan sangat bermanfaat,” harap dia.

“Sebab itu, sebagai warga desa sangat berharap kiranya pihak Telkomsel bisa menambah alatnya, mengingat di desa ini hanya bisa mengakses provider Telkomsel,” pungkas dia, menutup pembicaraan.  (valentino warouw/rds)