Tim Program Studi D3 Jurusan Pariwisata Latih Anak-Anak Mokupa Berbahasa Inggris

oleh -
Ketua Tim Program Kemitraan Masyarakat, Deisy Christiana Andih dan anggota Margaretha Waroka foto bersama usai melatih Bahasa Inggris anak-anak di Desa Mokupa. (ist)

MANADO-Kepedulian cukup besar ditunjukkan Tim Program Studi D3 Usaha Perjalanan Wisata Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Manado dalam menunjang kesiapan sumber daya manusia (SDM) menyambut pengembangan pariwisata di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Tim ini melatih anak-anak di Desa Mokupa, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa.

Ketua Tim Program Kemitraan Masyarakat, Deisy Christiana Andih menjelaskan, kegiatan Program Kemitraan Masyarakat ini, dilakukan karena ingin membantu masyarakat, khususnya anak-anak yang sedang mengenyam studi di bangku sekolah dasar (SD) untuk bisa berbahasa inggris.

Menurutnya, Desa Mokupa yang merupakan salah satu desa di kawasan pariwisata Sulut sangat perlu ditunjang pemahaman bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris agar dapat berkomunikasi dengan wisatawan asing yang berkunjung ke daerah tersebut. “Banyak wisatawan yang berkunjung ke desa ini suka sekali bercengkarama dengan anak-anak dan masyarakat, tetapi sulit karena masyarakat tidak paham berbahasa inggris,” ungkap Deisy, diiyakan Margaretha Waroka, anggota tim lainnya, Rabu (15/5/2019).

Deisy menjelaskan, pihaknya melibatkan mahasiswa Program Studi D3 Usaha Perjalanan Wisata Politeknik Negeri Manado dalam memberikan pelatihan Bahasa Inggris kepada anak-anak di SD INPRES 6/80 dan SD GMIM Mokupa pada Senin (13/5/2019). “Anak-anak sangat antusias mengikuti pelatihan ini. Mereka pun sudah mulai paham cara berkomunikasi awal menggunakan Bahasa Inggris dengan wisatawan asing yang berkunjung,” tuturnya.

Dia menuturkan, Program Kemitraan Masyarakat yang dilakukan pihaknya bisa memberikan dampak yang baik dalam menunjang pengembangan sektor pariwisata yang sedang digenjot oleh pemerintah daerah saat ini. Deisy mengakui, pemahaman Bahasa Inggris sangat penting untuk diketahui masyarakat yang tinggal di kawasan pariwisata.

“Ini sangat penting soal komunikasi. Contohnya di Bali, masyarakat dan anak-anak di sana sudah sangat mahir berbahasa inggris. Turis yang berkunjung pun merasa betah karena bisa berkomunikasi untuk menyampaikan hal-hal yang ingin disampaikan,” tuturnya.

Lewat pemahaman Bahasa Inggris, kata Deisy, akan memberikan satu keuntungan bagi masyarakat lewat pengembangan pariwisata di Bumi Nyiur Melambai saat ini. “Apalagi anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa di daerah ini. Sangat penting dibekali pemahaman Bahasa Inggris yang dapat menjadi modal bagi mereka di kemudian hari,” tukasnya. (rivco tololiu)