Akademisi dan Budayawan Apresiasi Gerakan #IndonesiaBicaraBaik

oleh -
Max Rembang, Akademisi Unsrat. (Ist)

MANADO-Akademisi dan budayawan di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mendukung gerakan #IndonesiaBicaraBaik. Upaya ini untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat di tengah maraknya ujaran kebencian yang memicu perpecahan.

Ketua Media Center Unsrat Max Rembang mengungkap, hastag #IndonesiaBicaraBaik sebagai kampanye strategis yang dibutuhkan di tengah perubahan kultur masyarakat di era teknologi sekarang ini.

“Tidak bisa kita pungkiri kemajuan teknologi telah menyentuh bahkan sampai masyarakat di pedesaan. Penggunaan media sosial yang sekarang cukup mudah diakses memiliki segi positif dan negatif. Tanpa disadari media sosial rentan penyebaran ujaran kebencian dan hoax yang bisa menimbulkan perpecahan,” ungkapnya, Kamis (8/8/2019).

Dia mengakui, kegiatan kampanye #IndonesiaBicara Baik yang terus digelorakan Perhumas Manado sangat positif sebagai langkah strategis memberikan edukasi bagi masyarakat tentang berbicara baik dan positif di media sosial.

Dirinya juga berharap, insan pers di Sulut ikut ambil bagian membantu mereduksi ujaran kebencian dan hoaks. Hal ini menurutnya penting, karena mengingat pers saat ini masih jadi kepercayaan masyarakat untuk mencari informasi.

Lanjut dia, Dewan Pers sebagai institusi resmi juga diharap dapat bekerja lebih keras memberikan sertifikasi kepada lembaga atau perusahaan pers agar berita yang berkembang di masyarakat benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dan bukan hoaks.

“Pers juga sangat berpengaruh dalam kampanye ini. Perusahaan pers bertanggungjawab atas informasi yang diterima masyarakat dari medianya. Terutama media arus utama yang saat ini masih dipercaya masyarakat,” ujar Akademisi Unsrat tersebut.

Sementara itu, dukungan atas kampanye Indonesia Bicara Baik datang pula dari akademisi yang juga budayawan, Meiske Liando. Ia menyebut, kampanye ini sebagai pilihan bijak dan ajakan positif untuk masyarakat.

“Ini pilihan yang bijak. Di pandang dari sisi kebahasaan kalimat ini mungkin sederhana, tetapi makna yang menyelinap di dalamnya sangatlah dalam. Ajakan serta spirit bagi segenap rakyat Indonesia ini sekaligus juga tantangan berat mengingat kentalnya keberagaman serta perbedaan yg acapkali memunculkan interpretasi yang sarat makna. Belum lagi arus informasi melalui media sosial yg tidak memiliki standar baku, membuat kebingungan pengguna medsos yang berujung pada makian atau ujaran kebencian,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan, gerakan perhumas ini tidak hanya perlu dilakukan oleh praktisi kehumasan di jajaran swasta dan pemerintah, tapi juga seluruh masyarakat Indonesia.

“Gerakan yang diinisiasi oleh Perhumas ini sangatlah positif dan patut diacungi jempol karena membantu masyarakat memiliki kesadaran berbicara yang baik dalam semangat nasionalisme dan persatuan, serta ikut menyampaikan berita-berita positif yg menyangkut budaya bangsa Indonesia yang indah karena keberagamannya,” tandasnya.(Ilona piri)