Redam Inflasi, BI Sulut Bagi 20 Ribu Bibit Tomat & Cabai ke Sinode GMIM

oleh -
Kepala Kantor Perwakilan BI Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat saat menyerahkan bibit tomat sayur dan cabai rawit kepada Sinode GMIM. Istimewa

MANADO—Bank Indonesia menyerahkan 20.000 bibit tomat sayur dan cabai rawit  kepada Sinode GMIM, hal ini dimaksudkan untuk meredam terjadinya inflasi bergejolak di Provinsi Sulawesi Utara Sulut.

Puluhan ribu bibit tersebut diserahkan saat pembukaan Sidang Majelis Sinode Tahunan (SMST) GMIM ke-32 di Jemaat Pniel Manembo-nembo, Bitung, Selasa, 26/11/2019. Penyerahan itu disaksikan Gubernur Sulut Olly Dondokambey

“Yang kami harapkan ketika berbuah nanti dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari terlebih untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga para anggota Sinode,” ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat.

Arbonas  mengatakan, dengan cara seperti itu, bapak/ibu telah berkontribusi besar untuk bersama-sama membantu Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan tim pengendali inflasi daerah (TPID) dalam mengendalikan inflasi daerah. “Kami yakin dengan kontribusi Bapak/Ibu dalam  merawat, menanam, serta mengkonsumsi hasil panen bibit-bibit ini, inflasi Sulawesi Utara dapat terkendali dengan baik seiring dengan tercukupinya pasokan bahan makanan rumah tangga di pasaran,” terangnya.

Arbonas juga berharap bibit yang dibagikan dapat menjadi manfaat bagi para anggota Sinode GMIM baik untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya, maupun untuk dijadikan sebagai salah satu sumber penghasilan rumah tangga. “Kiranya upaya bersama ini dapat menjadi berkat tersendiri bagi kita semua dan menjadi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat Sulawesi Utara,” ujarnya.

Selama 2019, kata Arbonas, tingkat inflasi di Provinsi Sulut cukup bergejolak. Hingga  Oktober, tercatat harga barang dan jasa di Sulut mengalami inflasi sebesar 4,81% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadikan Provinsi Sulawesi Utara sebagai provinsi dengan tingkat inflasi bulanan tertinggi di Indonesia. “Faktor utama kenaikan harga barang dan jasa pada Bulan Oktober tersebut adalah kenaikan harga yang cukup tajam pada Kelompok Bahan Makanan, terutama Tomat Sayur,” jelasnya.

Ke depan, kata dia, pihaknya memproyeksikan akan terjadi kenaikan tingkat konsumsi yang cukup tajam menjelang periode Hari Raya Natal dan Tahun Baru terutama untuk komoditas bahan makanan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi TPID Sulawesi Utara dan kita semua dalam pengendalian inflasi Sulut.

Namun demikian, BI optimis kita akan dapat menghadapi tantangan tersebut dengan baik Jika Pemerintah Provinsi Sulut bersama TPID dapat bergandengan tangan dengan seluruh elemen masyarakat untuk mengantisipasi kurangnya pasokan barang dan tingginya konsumsi dalam waktu satu bulan ke depan. “Karena seperti yang Bapak/Ibu ketahui, inflasi yang tinggi dapat menggerus kesejahteraan rakyat dan pertumbuhan ekonomi, sehingga perlu dikendalikan dalam level yang rendah dan stabil,” paparnya.

Oleh karena itu, BI memandang pemberian bibit merupakan upaya yang strategis bagi TPID Sulut untuk bersinergi dengan masyarakat  dalam mengendalikan inflasi. (stenly sajow)