MANADO — Disparitas pergerakan harga antarwilayah di Sulawesi Utara tergambar jelas pada Mei 2026.

Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), Kota Manado mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 3,27 persen, sementara Kabupaten Minahasa Utara berada di posisi terendah dengan inflasi 0,66 persen.

Kepala BPS Sulawesi Utara, Watekhi, menjelaskan bahwa perbedaan struktur konsumsi dan pasokan komoditas antardaerah menjadi faktor utama penyebab disparitas ini.

“Tingkat inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Manado sebesar 3,27 persen, dengan angkutan udara sebagai pendorong utama. Sementara terendah terjadi di Kabupaten Minahasa Utara sebesar 0,66 persen,” jelas Watekhi, Selasa (2/6/2026).

Secara bulanan, kondisinya justru terbalik. Deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Minahasa Selatan sebesar 1,39 persen, diikuti Minahasa Utara minus 0,51 persen, Manado minus 0,47 persen, dan Kotamobagu minus 0,34 persen.

“Deflasi m-to-m terdalam terjadi di Minahasa Selatan sebesar 1,39 persen, dengan komoditas cabai rawit sebagai penahan inflasi terbesar di wilayah tersebut,” tambah Watekhi.

Dari data y-on-y, Kotamobagu mencatatkan inflasi 2,04 persen dengan emas perhiasan sebagai pendorong utama, sedangkan Minahasa Selatan berada di angka 0,93 persen yang didorong oleh komoditas daun bawang.

Di seluruh wilayah cakupan IHK Sulut, daging babi konsisten menjadi komoditas penahan inflasi tahunan terbesar.

Watekhi mengimbau pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi pengendalian harga, terutama menjelang periode-periode yang berpotensi memicu lonjakan permintaan.

“Sinergi antara pemerintah daerah, distributor, dan pedagang sangat penting untuk menjaga stabilitas harga demi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (nando)