Cegah Dini, Brantas Rame-Rame Bahaya Narkoba

oleh -
Lexie Kalesaran. (FOTO: Istimewa)

 

Penulis: Lexie Kalesaran (Relawan/Penggiat Anti Narkoba dan Pemerhati Sosial Kemasyarakatan)

PEREDARAN gelap narkoba (narkotika, psikotropika dan bahan adiktif) sungguh sangat mengkhawatirkan. Tidak saja sasaran edaranya bagi orang ‘berpunya’ atau orang dewasa melainkan sudah cukup merata sampai kepada yang berpenghasilan biasa atau generasi muda.

Sasaran calon pengedarpun sudah cukup luas profesi atau pekerjaan mereka. Tidak saja kaum laki-laki tapi kaum perempuanpun tak luput dilirik. Bahkan, kaum mudapun telah diincar menjadi sasaran. Pelbagai upaya dan cara dilakukan bandar atau mereka yang punya kepentingan dengan peredaran gelap narkoba baik di Indonesia maupun daerah-daerah termasuk di Sulawesi Utara.

Terbukanya informasi dan komunikasi, sarana dan prasarana serta hal pendukung lainnya dari suatu daerah menjadi ruang bagus untuk pesebaran atau peredaran gelap barang berbahaya tersebut. Pasar peredaran gelap narkoba menjadi terbuka luas. Modus operandinya pun jadi berbagai rupa/macam.

Maka, menjadi pekerjaan rumah bersama adalah bagaimana agar pesebaran dan peredaran gelap narkoba itu bisa direm, dibatasi, bahkan bisa ditutup.

Lokasi, tempat atau apapun namanya yang bisa menjadi tempat transaksi gelap narkoba harus dicermati, diawasi, bahkan (bila memungkinkan) harus diadakan operasi baik secara terjadual maupun secara tiba-tiba (sidak/inspeksi mendadak).

Lokasi atau tempat yang tadinya dianggap steril atau sulit dijadikan sarana transaksi hendaknya pula menjadi perhatian. Siapa yang menyangka bahwa lembaga pemasyarakatan bisa menjadi tempat yang empuk untuk peredaran gelap narkoba ? Telah menjadi fakta bahwa ada lapas yang kedapatan menjadi tempat peredaran narkoba.

Di Sulut sendiri ada penghuni lapas yang kedapatan menjadi pengedar narkoba. Lewat Tim Dorektorat Narkoba Polda Sulut pada awal Februari 2020 berhasil membongkar peredaran narkoba di Lapas Tuminting.

Dua pengedar berhasil ditangkap berikut barang bukti (bukti) berupa 15 paket narkotika jenis shabu seberat 300 gram dan babuk lainnya disita. Kerja keras dan tidak main-main dari Tim Direktorat Narkoba Polda Sulut itu selain patut diapresiasi, tetapi sekaligus juga menjadi tanda awas bagi kita semua. Maka diperlukan kerjasama atau keterlibatan semua pihak termasuk masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan gelap narkoba (P4GN) di daerah ini.

Upaya P4GN tidaklah hanya menjadi tanggung jawab Polri dan Badan Narkotika Nasional (BNN) saja melainkan menjadi juga tanggung jawab pemangku kepentingan lain termasuk masyarakat. Dalam UU No. 35 Tahun 2009 pasal 104 – 108 telah diatur peranserta masyarakat dalam P4GN. Secara sederhana bisa dikatakan masyarakat bisa berperan sebagai mata, telinga dan mulut Polri dan BNN. Bila masyarakat mendengar atau melihat adanya atau diduga akan melakukan transaksi narkoba atau akan menggunakan narkoba, silahkan melaporkan kepada aparat Polri atau BNN terdekat. Nanti pihak berwenang (Polri dan BNN) yang akan bertindak. Sebagai mulut, masyarakat yang telah mendapat informasi tentang P4GN bisa melakukan sosialisasi atau memberikan infomrasi tentang bahaya narkoba P4GN kepada teman, saudara atau masyarakat lainnya,

Memberikan informasi atau sosialisasi bahaya narkoba atau P4GN menjadi upaya dini agar masyarakat tidak menggunakan atau coba-coba menggunakan narkoba, bahkan agar tidak ingin atau tidak berusaha menjadi pengedar barang berbahaya tersebut karena sudah tahu konsekuensi yang akan didapat atau terjadi. Mari kita tebarkan informasi P4GN kepada semakin banyak orang sesuai kesempatan/kemampuan yang ada sebagai upaya pencegahan dini. Mari dukung upaya brantas rame-rame peredaran gelap narkoba dari Polri dan BNN.

No More Posts Available.

No more pages to load.