MANADO- Jumlah positif tertular Covid-19 di Sulawesi Utara (Sulut) terus bertambah signifikan, dimana hingga Rabu (27/5/2020) total mencapai 281 kasus dan 209 masih sementara dirawat. Selain itu, ada juga 172 pasien dalam pengawasan (PDP). Hal tersebut membuat Gugus Tugas Covid-19 Sulut bekerja keras untuk menanggulanginya.

Salah satu yang menjadi perhatian Gugus Tugas ialah ketersediaan tempat tidur di ruang isolasi yang ada di rumah sakit rujukan bagi para PDP maupun pasien positif Covid-19

Berdasarkan data yang disampaikan oleh Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Covid-19 Sulut, dr Steaven Dandel, awalnya pihaknya menyiapkan 350 tempat tidur di ruang isolasi, tetapi saat ini kapasitas tersebut telah ditingkatkan menjadi total 428 tempat tidur.

“Untuk ruang isolasi ada 428 (tempat) tidur ruang isolasi, yang terisi sudah kurang lebih 70%, jadi ada cadangan 30%,” ujarnya saat konferensi video bersama wartawan, Rabu (27/5/2020).

Dandel mengungkapkan bahwa yang terpenting saat ini adalah menjaga agar ruang isolasi tidak sampai penuh serta mengatur flow atau pergerakan pasien agar bisa menjamin terjadinya isolasi yang memadai.

“Untuk ventilator sendiri penggunaanya memang sangat terbatas untuk yang sudah kasus-kasus ARDS (Sindrom gawat napas akut). Nah kasus-kasus ini harus hati-hati sekali diberikan ventilator,” tambahnya.

Hal tersebut disebabkan karena dari data yang ada, ketika pasien sudah dipakaikan ventilator, maka kemungkinan ke depannya kondisi pasien tersebut justru akan memburuk. “Karena ada mekanisme yang memaksakan pasien bernapas, nah itu juga salah satu kontributor keberlanjutan pasien (untuk hidup) menjadi lebih kecil,” jelas Dandel.

Adapun guna menghindari ruang isolasi yang penuh, langkah yang diambil pihaknya adalah dengan mempercepat kepastian status dari PDP yang telah berada di ruang isolasi. “Agar turn over dan lama perawatan dari pasien-pasien ini kemudian bisa diperpendek dan bisa diisi dengan PDP yang baru,” beber Dandel.

Selain itu juga, pihaknya berharap dengan mulai dioperasikannya laboratorium (Lab) PCR milik Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), dapat membantu pemeriksaan sampel swab dari PDP dan mereka yang hasil rapid testnya reaktif.

“Maka kapasitas lab kita akan meningkat, minimal dua kali lipat, sehingga kita berharap deadlock hasil-hasil lab ini kemudian akan menjadi berkurang, dan waktu tunggu hasil lab juga berkurang agar data-data epidemiologi semakin konstan masuk ke Gugus Tugas Covid-19 Sulut,” tukasnya. (Fernando Rumetor)