Gerakan Mapalus, Warga Kolongan Sambut Pasien yang Sembuh dari Covid-19

oleh -
Warga kolongan beri dukungan bagi pasien sembuh dari Covid-19 pulang usai menjalani isolasi. (FOTO: Istimewa)
TOMOHON – Budaya mapalus yang dikenal menjadi ciri khas bangsa Minahasa, menyelesaian satu hal bersama-sama. Istilah ini merupakan satu tindakan gotong-royong yang sudah diperkenalkan masyarakat keturunan Toar-Lumimuut.

Di situasi pandemi Covid-19, budaya ini juga sangat cocok dijadikan wujud implementasi kehidupan bermasyarakat. Seperti yang terjadi di Kota Tomohon, sekira pukul 10.30 WITA, Senin (16/6/2020).

Saat salah satu warga Kelurahan Kolongan berinisial JR yang sembuh dari penyakit yang mewabah di seantero dunia ini, mendapat sambutan dan dukungan moril dari masyarakat. Ketika mobil ambulans yang mengantar pasien sembuh dari Covid-19 menuju rumahnya, warga Lingkungan VI dan sekitarnya menyambut dan memberikan dukungan.

Lurah Kolongan Jones Mait menuturkan sudah menjadi budaya ketika ada warga yang dalam keadaan sulit, masyarakat lainnya gotong royong membantu. “Ini sebagai bentuk kami baik pemerintah dan masyarakat memberikan support bagi keluarga yang tertimpa musibah. Ini juga salah satu bentuk dukungan penguatan guna menepis stigma-stigma baik bagi pasien maupun keluarga,” jelas Mait saat diwawancarai KORAN SINDO MANADO/SINDOMANADO.COM seusai penjemputan.

Dia juga menjelaskan, sudah selayaknya bergandengan tangan memutus mata rantai penyebaran wabah ini. “Dengan ini juga memberikan edukasi ke masyarakat agar kita bisa sama-sama saling menguatkan agar kesehatan dan imun tubuh kita tetap kuat biar bisa terhindar dari virus,” lanjut lurah yang aktif di beberapa organisaai ini.

Harapan bagi masyarakat tentunya juga diajak selalu memberikan dukungan. “Banyak cara baik itu memberi bantuan materi maupun doa dan semangat meringankan beban bagi para pasien maupun keluarga. Janganlah memberikan stigma negatif melainkan mari kita mendoakan kesembuhan mereka juga penguatan bagi para medis yang berjuang di garda terdepan,” tukasnya. (Wailan Montong)