CATATAN: Masalah Anak Harus Menjadi Konsentrasi Bersama

oleh -
Gladys Runtukahu. (FOTO: SINDOMANADO.COM)

Oleh: Gladys Runtukahu, General Manager KORAN SINDO MANADO

“Setiap kali saya dan Ibu Iriana melakukan kunjungan ke daerah, baik itu ke Sumatera, ke Jawa, ke Kalimantan, Sulawesi, ke Papua, ke Maluku, ke Nusa Tenggara, ke manapun ke Tanah Air ini, ada satu hal yang selalu membuat saya dan Ibu Irana semangat saat bekerja, yaitu melihat senyum anak-anak” .
Pernyataan itu disampaikan oleh Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia Bersama Ibu Iriana saat memberikan sambutan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh setiap Tanggal 23 Juli 2020, melalui akun resmi youtube Sekretariat Presiden.

Sebuah pernyataan sederhana namun saya yakin sangat mewakili perasaan kita yang saat ini telah menyandang status sebagai orang tua. Dunia orang dewasa sungguh tidak sederhana, meskipun terlihat setiap hari menjalankan rutinitas yang sama. Bangun pagi, persiapan beraktivitas hingga malam datang kembali, semua orang tua pasti merasakan lelah. Terlebih jika dalam keadaan tertekan, hingga kemudian kehilangan semangat. Apa yang dapat membuat kita semangat lagi? Senyuman anak-anak.

Selelah apa pun situasi kita di luar rumah, anak selalu menjadi tujuan utama kita untuk pulang. Setiap jerih lelah kita, seolah hilang saat kita melihat senyum anak-anak saat kita kembali ke rumah. Tanpa di sadari oleh anak kita sendiri, mereka telah menjadi motivasi kita dalam bekerja. Sesederhana itu apa yang ingin disampaikan oleh Presiden.

Lalu, jika anak menjadi motivasi dan semangat kita dalam menjalani kehidupan, sudahkah kita memenuhi hak mereka sebagai anak?

Hari Anak Nasional, ditetapkan diperingati setiap 23 Juli setelah perjalanan panjang, dari satu perubahan ke perubahan lainnya. Saya yang sudah memiliki tiga orang anak bahkan kurang memperhatikan apa sebenarnya makna dari HAN. Selama ini, yang terjadi adalah ikut-ikutan latah mengupload foto anak Ketika HAN tiba. Seperti hari ini, hampir seluruh timeline dipenuhi oleh ucapan Selamat HAN.

Tahun 2020 ini, HAN diperingati dengan tagline #AnakIndonesiaGembiraDirumah. Melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) makna memperingati HAN adalah sebagai bentuk perlindungan terhadap generasi muda agar berkembang dan bertumbuh secara optimal. Tujuannya jelas, agar dapat mendorong keluarga sebagai Lembaga utama dan pertama dalam memberikan perlindungan dan jaminan kesejahteraan kepada anak.

Upaya tersebut diharapkan dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia dan tetap cinta Tanah Air Indonesia meskipun di masa Pandemi Covid-19. Ironisnya, saat ini Ikatan Dokter Anak Indnesia (IDAI) DKI Jakarta mengatakan bahwa angka kasus Covid-19 pada anak di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Dalam sebuah diskusi yang digelar oleh Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB), Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementrian Kesehatan, Fidiansjah mengungkapkan bahwa jumlah anak (orang berusia di bawah 18 Tahun) yang terinfeksi virus Covid-19 di Indonesia mencapai 7,008 orang dan 1,6% di antaranya meninggal dunia.

Meskipun begitu, berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid -19, per tanggal 19 Juli 2020 – dari jumlah tersebut angka kesembuhan terbilang setara, yaitu 2,3% balita dan 6,1% usian 6 -17 tahun dinyatakan sembuh. Angka kematian juga rendah, yaitu 0,9% untuk balita dan 0,6% pada usia 6-17 tahun.

Apa sebenarnya upaya sederhana yang bisa kita lakukan untuk memastikan anak-anak kita dapat bertumbuh secara optimal meskipun di tengah Pandemi Covid-19? Keluarga, dalam hal ini orang tua, sebagai Lembaga utama dan pertama harus Bahagia, untuk mewujudkan #AnakIndonesiaGembiraDiRumah. Bagaimana kita bisa mewujudkan anak yang riang gembira dengan suasana yang tidak bahagia?
Di saat Pandemi Covid-19, hampir semua orang tua, terlebih Ibu, mengeluhkan situasi yang tidak pernah dihadapi sebelumnya. Beban ganda seperti harus melakukan pekerjaan kantor di rumah, sambil tetap menjalankan urusan rumah Tltangga, tentu sesuatu yang baru yang membutuhkan toleransi tingkat tinggi. Namun, seiring berjalannya waktu, orang tua seperti telah mendapatkan ritme bagaimana menjalani situasi tersebut.

Saat ini, saat memperingati HAN marak beredar keluhan dari para orang tua yang harus menjalani peran sebagai guru di rumah. Ketika handphone sebelumnya hanya biasa digunakan untuk media sosial sekarang hampir seluruh orang tua, mau tidak mau harus siap menjadi guru di rumah, mempelajari fitur-fitur yang tidak pernah terbayang akan disentuh oleh seorang ibu rumah tangga; aplikasi meeting online. Yah, semua hal berubah, termasuk perubahan itu sendiri.
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita sebagai orang tua menjalankan peran tersebut sambil tetap menjaga suasana hati kita, membuat anak kita tetap gembira meskipun hanya berada di rumah.

Tapi tidak ada orang tua yang tidak ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Yang terjadi adalah keterbatasan dari orang tua itu sendiri. Kemarin malam, saya dikirimkan sebuah ilustrasi yang sangat menyentuh hati saya. Foto seorang anak berseragam SD lengkap namun hanya duduk termenung di depan rumah yang berlantai tanah. “Absen setiap pagi pakai seragam sekolah lengkap, lalu foto dikirimkan ke guru pengajar. Setelah itu, duduk manis di depan smart phone lalu memulai kelas online. Seperti apa rasanya? Apa daya, aku hanya anak seorang buruh harian. Jangankan smartphone, orang tuaku hanya memiliki satu HP biasa untuk di bawa bekerja. Aku berharap pandemi ini segera berlalu, agar aku bisa kembali sekolah lagi. Karena saat ini, aku dan teman – temanku hanya bisa pasrah. Sungguh, aku rindu belajar lagi…”

Masalah anak, alangkah baiknya menjadi konsentrasi kita bersama. Masa depan anak akan menjadi masa depan negara. Ilustrasi di atas, mewakili situasi banyak sekali anak di luar sana yang tidak memiiliki fasilitas memadai untuk melakukan sekolah online.
Tentu kita berharap, bantuan pemerintah saat Pandemi Covid-19 tidak hanya terbatas pada bantuan ekonomi, namun juga memperhatikan kelangsungan pembelajaran anak yang terbatas. Namun kita juga bisa memberi kesempatan bagi diri kita sendiri untuk setidaknya memberi perhatian bagi anak-anak di sekeliling kita. Hal sederhana apa saja yang bisa kita bagikan. Karena masa depan anak-anak, adalah masa depan Bangsa kita.
Di penutup Sambutan dalam rangka HAN, Presiden Jokowi juga tidak lupa mengajak anak-anak untuk tetap menjalankan protocol Kesehatan. Tentu, di bantu orang tua, anak -anak perlu diajarkan untuk tidak lupa menggunakan masker jika keluar rumah, selalu mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak Ketika bermain dengan teman-teman.
Dan Langkah sederhana kita, bisa terus menjaga senyum anak-anak tetap berkembang saat kita kembali dari lelahnya bekerja. (*)