Khouni Lomban Rawung Harap Keberadaan Pasar Ekstrim Tomohon Diubah Dengan Keindahan Hortikultura

oleh -
Duta Yaki Indonesia, Khouni Lomban Rawung (ketiga dari kanan, depan) bersama peserta Forum Mingguan KORAN SINDO MANADO, di TWA Tomohon, Kamis (5/11/2020). (Foto: Fernando Rumetor)

TOMOHON- Selamatkan Yaki bersama Koran SINDO Manado menggagas kegiatan diskusi bertema “Pariwisata Tomohon dalam Perspektif Ekonomi dan Lingkungan” yang digelar di Taman Wisata Alam (TWA) Kota Tomohon. Diskusi yang masuk kedalam agenda Forum Mingguan KORAN SINDO MANADO itu menghadirkan para stakeholder terkait.

Salah satunya ialah Duta Yaki Indonesia Khouni Lomban Rawung. Dalam diskusi yang membahasa secara khusus juga terkait keberadaan pasar tradisional Tomohon yang lebih banyak dikenal para wisatawan sebagai pasar ‘ekstrim’ Tomohon itu, Khouni membeberkan ide-idenya guna memperbaiki hal itu.

“Harus ada pendekatan, ada tokoh-tokoh masyarakat (yang bisa diajak bertemu), terutama pada pemasok, penjual dan siapapun pengemudi atau yang lainnya, untuk memutus mata rantai perdagangan satwa itu,” ujar Ketua TP-PKK Kota Bitung itu dalam diskusi, Kamis, (5/11/2020).

Ia pun memberikan semangat kepada Kepala Dinas Pariwisata Kota Tomohon, Masna Pioh beserta Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Kota (Setdakot) Tomohon, O. D. S. Mandagi yang hadir dalam kegiatan, agar terus mengangkat pasar Tomohon sebagai pasar tradisional yang memiliki daya tarik wisata.

“Bisa dijadikan pasar tradisional dengan keindahan hortikultura, sayur-sayur, buah-buahan, dan souvenir-souvenir. Kemudian perlahan namun pasti harus cek kembali jenis daging yang diperdagangkan. Selama masih ada daging dari satwa yang dilindungi, harus pendekatan dan edukasi lebih keras kepada penjual dan pemasok,” harap dia

Dirinya juga berharap agar papan tulisan ‘Pasar Ekstrim’ yang terdapat di pasar tradisional itu agar bisa dicabut dan digantikan dengan nama lain yang lebih bagus. Selain itu, dirinya berharap agar para penjual tersebut diberikan pelatihan dan pendampingan untuk bisa menjual hal lain yang masih juga bernilai ekonomi.

“Karena masih banyak mata pencarian lainnya yang juga sangat variatif. Seperti menanam sayur, menjual gula merah, dan lain sebagainya. Perlu hati terbuka untuk betul-betul menindaklanjuti ini. Yang penting mengubah image itu. Perlahan tapi pasti, bersama kita bisa,” pungkas Khoni seraya berharap agar pasar tradisional Tomohon bisa menjadi pasar yang ramah lingkungan kedepannya. (Fernando Rumetor)