WAG Justitia Societas dan Mappilu PWI Manado Gelar Diskusi ‘Menakar Debat Paslon dalam Pilkada Sulut’

oleh -
Pelaksanaan diskusi yang digelar WAG Justitia Societas bersama Mappilu PWI Manado secara virtual, kemarin. (Foto: Fernando Rumetor)

MANADO- WhatsApp group (WAG) Justitia Societas bersama Masyarakat Pers Pemantau Pemilu (Mappilu) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)  Kota Manado menggagas kegiatan diskusi secara virtual dengan topik “Menakar Debat Paslon dalam Pilkada Sulut 2020”, Rabu (18/11/2020).

Diskusi ini menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan pengamat politik Sulut. Stefan Obadja Voges selaku Admin WAG Justitias Societas dalam pengantarnya mengatakan, debat merupakan panggung politik yang mempertontonkan kualitas kandidat melalui visi misi mereka yang ditonton secara langsung oleh masyarakat.

“Kita memiliki kesempatan setelah melihat beberapa debat dalam rangka Pilkada Sulut. Maka dalam kesempatan ini, mari kita menakar apakah debat yang ada telah benar-benar memenuhi tujuan yang ingin dicapai. Dan dengan debat ini, kita mampu melihat siapa kandidat yang memiliki integritas, leadership, serta kapasitas yang mumpuni,” ujarnya saat mengantar forum diskusi.

Sementara itu, Ketua Mappilu Sulut, Jimmy Senduk menyampaikan bahwa dalam tiga tahapan debat publik Pilgub Sulut, dapat menjadi cerminan untuk melihat gagasan yang ditawarkan masing-masing paslon dalam rangka pembangunan yang akan dilakukan di Sulut. Tapi ada hal-hal teknis dalam debat yang menurutnya, mendiskreditkan suatu pasangan calon (paslon) tertentu. “Ini perlu kita bahas pada malam ini, mungkin ada hal-hal yang bisa didiskusikan,” kata dia.

Diskusi yang berlangsung kurang lebih dua jam itu pun berlangsung seru. Tak hanya para narasumber saja yang mengeluarkan pendapat. Tetapi juga peserta diskusi virtual yang terdiri dari banyak kalangan, antara lain akademisi, pengamat, pelaku usaha, jurnalis, maupun politisi yang ada di Bumi Nyiur Melambai.

Dalam kesimpulannya, Dosen Kepemiluan Unsrat yang juga narasumber dalam diskusi, Ferry Daud Liando menyampaikan bahwa sebenarnya tema debat publik yang paling menarik ialah apabila penyelenggara pemilu dan paslon bisa menentukan prioritas-prioritas yang harus dibahas dalam debat. Sebab, tidak semua kepentingan masyarakat dapat diakomodasi dalam debat.

“Karena ada keterbatasan waktu, anggaran, serta sumber daya. Tinggal bagaimana sebetulnya makna debat itu adalah masing-masing calon itu prioritas mana yang harus diutamakan. Salah memilih, bisa elektabilitasnya naik ataupun turun, tergantung populasi mana yang banyak. Contohnya kalau populasi pariwisata yang banyak, pasti calon yang mengusung itu pasti akan dipilih,” terangnya.

Menurutnya, dalam tiga debat terkahir, argumentasi yang diberikan semua calon sama saja. Semua calon berbicara tentang kesehatan, pendidikan, infrastruktur. Dikatakan Liando, referensi masyarakat untuk memilih suatu calon dapat terbentuk apabila ada perbedaan-perbedaan yang dimunculkan oleh calon. Tapi hal tersebut tak tampak dalam debat yang ada.

“Jadi apakah debat ini memberikan dampak elektoral? kalau saya katakan itu sulit. Substansinya tidak nyambung, apalagi terkait juga teknis-teknis debat. Tak semua orang menonton, melihat maupun memantau. Kita juga jangan salahkan paslon kalau ada kekurangan-kekurangan, karena mereka terjebak dalam sistem dan mekanisme (debat),” papar Wakil Ketua AIPI Kota Manado itu.

“Ada yang ingin mendalami tetapi terbatas oleh waktu. Pertanyaan-pertanyaan yang disajikan juga bukan berdasarkan dari identifikasi masalah. Kita jarang berangkat dari sebuah data, berdasarkan identifikasi. Oleh karena itu, ketika menjawab abstrak semua dan saling copy paste. Dan apa yang dijanjikan itu sebenarnya program-program yang absolut. Tidak mungkin apa yang sudah ditentukan pemerintah pusat berbeda dengan apa yang dilakukan pemerintah daerah,” jelas Liando.

Sementara itu, Anton Miharjo selaku narasumber dan merupakan juga Konsultan Politik di Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menuturkan bahwa para calon yang ada tak fokus pada program utama yang dimiliki. Ketiganya dinilai Miharjo, lebih banyak berbicara hal yang luas dan umum.

“Itu sebenarnya bagus juga. Karena susah juga berbicara substansial ketika tidak ada yang substansial. Aku hanya ikut rame saja sebenarnya, karena dari dulu baik Pilpres maupun Pilkada tak ada hal yang menarik. Paling hanya tambahan saja (secara elektoral), itu pun kecil. Paling dua persen, tiga persen, lima persen,” kupasnya.

“Aku tidak pernah mendengar saking jago debatnya, tiba-tiba menjadi pemenang, misalkan elektoralnya naik 30%. Ya semua berlaku, berlanjut normal-normal aja. Paling naik tiga persen, turun satu persen, dan sebagainya,” tutur Miharjo.

Di sisi lain, akademisi Unsrat yang juga menjadi pembicara, Taufik Pasiak menilai debat yang ada sangat penting, karena kita sebagai masyarakat dapat menilai dan mengukur orang yang akan memimpin suatu komunitas dan wilayah adalah orang-orang yang memiliki kapasitas sebagai seorang pemimpin atau leader.

“Konten itu penting, tapi dalam debat-debat seperti ini kita tidak bisa melihat secara mendalam, melihat secara cermat. Makanya saya lebih memperhatikan pada kemampuan berpikir dan gaya komunikasi. Penampilan yang tampak lugu dari salah satu paslon, justru bisa menguntungkan apabila tim suksesnya cerdas. Karena rakyat tidak mau lihat kecerdasan, tapi pemihakan ke mana. Apakah debat ini memberikan keuntungan atau tidak,” terangnya.

Penulis Buku Otak dan Kota itu menyebut, ada tiga hal juga yang diamatinya dari para paslon. Yang pertama adalah kemampuan berpikir kritis yakni kemampuan seseorang untuk mengguncang pemikiran lama dan melihat sesuatu yang visioner. “Kemudian kemampuan berpikir strategik.

Soal gaya komunikasi dan pilihan bahasa itu adalah faktor kultur, kebiasaan yang sangat berpengaruh,” imbuh Pasiak.

“Oleh karena itu memang debat ini, hemat saya, tidak memberikan substansi. Cuma menjawab, bertanya, menjawab. Spontanitas malah tidak ada. Jadi untuk ke depan, KPU kalau boleh yang diuji itu spontanitas. Kemampuan menjawab spontan itu dari situ terukur. Kebiasaan seseorang dan kompetensinya,” sambung Pasiak.

Dirinya lebih melihat kompetensi dibandingkan gaya komunikasi seseorang. Sebab, hal itu yang akan menentukan. “Kalau gaya komunikasi kita bisa atur sedemikian rupa. Tapi dalam berpikir, saya kira itu unik pada seseorang. Oleh karena itu, saya berharap dari tiga paslon ini, siapa pun yang akan terpilih nanti, itulah pilihan terbaik bagi rakyat,” kuncinya. (Fernando Rumetor)