Padukan Konsep Alam dan Kearifan Lokal, Tuur Maasering Jadi Lokasi Wisata Andalan Baru di Kota Tomohon

oleh -
Gacoan baru tempat wisata di ujung timur Tomohon, ramai di kunjungi para wisatawan baik dalam kota mauoun luar kota. (Foto: Koran Sindo/Wailan Montong)

TOMOHON- Meskipun dunia pariwisata tengah dihimpit pandemi, belum lagi pembatasan aktivitas lewat aturan yang diberlakukan. Bukan menjadi halangan untuk tetap menciptakan inovasi guna merangsang pertumbuhan pariwisata. Selain upaya bersama memulihakan ekonomi, juga secara tidak langsung sebagai wahana mengobati kerinduan masyarakat yang berjuang untuk betah stay at home hampir setahun.

Tomohon sebagai daerah dataran tinggi yang bisa dikatakan dunia pariwisatanya tetap stabil dalam berkembang biak. Seperti salah satu spot wisata baru, yang terletak di ujung timur Kota Bunga. Tuur Ma’asering menjadi salah satu lokasi wisata terbaru yang ada di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, dengan menempuh perjalanan sekira 15-20 menit dari Pusat Kota Tomohon.

Tempat wisata yang berlokasi di Kelurahan Kemulembuai, Kecamatan Tomohon Timur ini mempunyai konsep yang unik dengan memadukan wisata alam dan kearifan lokal.

Nuansa hutan Pohon aren (pohon seho dalam sebutan orang Minahasa) serta ditambah dengan bangunan cafe yang terbuat dari kayu dan bambu menjadi ciri khas tersendiri di Tuur Ma’asering.

Ini pun menjadi sangat cocok untuk refrensi tempat santai bersama keluarga ataupun nongkrong menghilangkan sedikit kepenatan.

Selain itu, di Tuur Ma’asering juga terdapat tempat penyulingan cap tikus, yang mana pengunjung bisa menyaksikan langsung bagaimana proses pembuatan minuman khas Minahasa tersebut.

Saat hari mulai gelap, pemandangan di Tuur Ma’asering akan akan terlihat lebih menarik, cahaya lampu yang melingkari pohon aren bakal membuat pemandangan sekitar kian unik.

Keunikan lainnya di Tuur Ma’asering pengunjung bisa mencicipi saguer yang merupakan minuman beralkohol berkadar rendah khas Minahasa dengan disajikan dalam tempurung.

Juga pengunjung bisa bersantai sambil menikmati makanan-makanan ringan yang ditawarkan di Tuur Ma’asering.

Tempat yang beroperasi sejak Oktober ini, pun belakangan menjadi lokasi tujuan wisatawan, bahkan banyak yang tak ingin melewatkan dengan mengabadikan foto pemandangan saat berada di Tuur Ma’asering, apalagi saat liburan Natal dan Tahun Baru sebelum aturan pembatasan jam operasional diberlakukan. “Melihat tempat ini mulai viral dikalangan anak muda, sehingga penasaran juga menikmati suasana santai berada di dataran tinggi yang dingin ditemani kopi, teh, minuman khas daerah seperti saguer, hingga cap tikus yang bisa menghangatkan suhu tubuh,” jelas Waraney Mongkau yang bersama rekan-rekannya menikmati udara sore menjelang malam.

Sementara Jeffri Polii selaku Owner menyebut Tuur Ma’asering sengaja dihadirkan dengan konsep berbeda.

Karena selain menawarkan konsep alam dan kebudayaan, Tuur Ma’asering dibuat lewat sentuhan ramah lingkungan dengan tetap menjaga nilai-nilai ekologi hutan pohon Aren. “Memang sengaja membuat konsep alam dan kebudayaan. Yang mana Tuur Ma’asering memang dibuat guna mencerminkan suasana kehidupan rakyat Minahasa yang sebenarnya. Serta dengan menonjolkan kearifan lokal yang telah diwarisi sejak dulu,” ungkap pria yang biasa disapa Jepol ini.

Kedepan nanti Jepol menyebut pengelolaan dan pengembangan akan lebih diarahkan kepada bentuk pelestarian yang diorientasikan demi peningkatan kesejahteraan rakyat.”Karena tak hanya pesona keasrian hutan, pengunjung juga dapat menyaksikan langsung bagaimana berbagai bentuk kearifan lokal yang dilakukan masyarakat dalam mengelola hasil alam khususnya dari Pohon Enau,” katanya seraya menambahkan Tuur Ma’asering disiapkan untuk menjadi pusat gerakan perekonomian rakyat petani.

Sedikit mengisahkan asal muasal sehingga dibangunnya tempat wisata yang menjadi gacoan baru di Tomohon ini.”Tuur Ma’sering murni muncul dari karya dan kreativitas para petani sebagai upaya untuk memperkuat ketahanan pangan yang bersumber dari hasil perkebunan. Nah, jika saat ini banyak yang harus bekerja dari rumah atau dikenal dengan sebutan work from home. Maka kami dan masyarakat petani harus tampil dengan bekerja dari kebun atau Work Form Garden. Ini sebagai bentuk keseimbangan sosial yang diwujudkan oleh masyarakat petani,” tukas pria yang juga aktif dalam wadah organisasi lingkungan hidup.

Menjelang Natal hingga beberapa hari sebelum diberlakukan aturan membatasi aktivitas tempat wisata dan hiburan, kunjungan di Tuur Ma’asering nampak ramai. Meskioun begitu, penerapan protokol kesehatan ketat dilakukan. Tidak hanya itu, para petugas dan karyawan tidak bosan-bosannya mengingatkan terkait penerapan protokol kesehatan. (Wailan Montong)