Kurang Aktivitas Picu Masalah Kesehatan

oleh -
(Ilustrasi:Istimewa)

Pandemi membuat aktivitas menjadi terbatas. Alhasil, masyarakat pun mengadopsi gaya hidup pasif yang berpotensi timbulkan masalah kesehatan. Kantor diberlakukan work from home, sekolah pun dilakukan dengan jarak jauh, tempat kebugaran juga ditutup. Mau tak mau semua aktivitas terbatas dilakukan hanya di rumah saja. Kalau sudah begini, masyarakat akhirnya mengadopsi gaya hidup kurang gerak atau malahan pasif, yang berujung timbulnya masalah kesehatan.

Ya, malas bergerak membuat berat badan rentan bertambah bahkan obesitas. Risiko terkena berbagai penyakit tidak menular (PTM) bukan lagi sekedar isapan jempol belaka. Pasalnya, ambil contoh berat badan yang bertambah. Keadaan ini dapat memunculkan sindroma perut buncit yang ditandai dengan trigliserida yang tinggi, HDL (kolesterol baik) yang turun, tekanan darah naik, serta gula darah yang juga naik.

Kondisi tersebut erat kaitannya dengan penyakit hipertensi, diabetes, obesitas, hingga asma. Dikatakan dr. Roy Panusunan Sibarani Sp.PD-KEMD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam-Konsultan Endokrin Metabolik, pandemi memunculkan potensi kesehatan metabolik yang meningkat. Gangguan metabolik sendiri adalah kelainan medis yang mempengaruhi produksi energi di dalam sel tubuh manusia.

Umumnya, kelainan genetik mengakibatkan gangguan pada metabolisme, sehingga enzim yang berperan dalam proses metabolisme sel hilang atau rusak. “Pada saat terjadi pandemi, terjadi juga perubahan pola hidup, baik secara fisik, psikis, atau kehidupan sosial selama bekerja dari rumah (WFH). Semua hal itu sudah pasti akan berpengaruh terhadap kesehatan dan yang paling menonjol terhadap kesehatan metabolik,” ungkap dr. Roy.

Ia melanjutkan, pada era Covid-19 sekarang ini, semua orang terlalu fokus pada Covid-19. Artinya, penyakit-penyakit seperti serangan jantung, gula tinggi, hipertensi jadi seperti terlupakan. “Hanya berfokus pada Covid-19 justru membuat orang jadi tidak awas terhadap penyakit metabolik. Padahal, penyakit metabolik itu adalah penyakit degeneratif. Dimana, makin tua kita, maka makin banyak kemungkinannya untuk kena penyakit diabetes, darah tinggi, dan gangguan kolesterol,” ujar dr. Roy.

Menurut dr. Roy, di Indonesia diperlukan analisa dan data, apakah setelah enam bulan pasca era Covid-19 selesai, penyakit metabolik akan bertambah. Misalnya, yang tadinya tidak diabetes jadi diabetes. Dan dari yang sebelumnya hanya diabetes ringan, menjadi diabetes berat. Serta yang tadinya kolestrol rendah  malah menjadi naik. “Ini semua, karena pada saat WFH, mereka takut beli obat, tidak konsultasi ke dokter, dan banyak timbul kecemasan bahkan takut bertemu orang luar,” imbuh dr. Roy.

Untuk mencegah timbulnya penyakit metabolik, ia menyarankan, bila pada masa pre-Covid-19 masyarakat sudah melakukan pola hidup yang baik, dengan olahraga rutin, konsumsi makanan sehat serta bergizi, maka pada saat era Covid-19, masyarakat bisa tetap melakukan kegiatan positif itu. Termasuk mereka yang biasa olahraga di gym, bisa mengganti olahraga dengan cara lain selama di rumah karena mempunyai waktu untuk diri sendiri.

Sebaliknya, untuk mereka yang belum memiliki pola hidup yang baik pada saat pre-Covid-19, di masa pandemi ini justru menjadi waktu yang tepat untuk membenahi pola hidup menjadi lebih baik. Dengan cara memperbaiki pola hidup, diantaranya dengan berolahraga teratur, tidur cukup, minum air putih cukup, serta makan makanan bergizi dan suplemen yang baik.

Sejatinya, Covid-19 dan penyakit metabolik memiliki satu kesamaan untuk pencegahan yaitu kedisiplinan. Terkait kebiasaan tidur, kurang tidur dapat mempengaruhi sistem imun tubuh dan membuat tubuh rentan terhadap penyakit. Padahal, tidur cukup di malam hari selain baik untuk tubuh juga bagus untuk kesehatan otak.

Dikatakan Brittany LeMonda, PhD selaku neuropsychologist di Lenox Hill Hospital, New York City, AS dikutip dari Healthline, tidur berhubungan dengan imunitas tubuh. “Jika kita tidak tidur, imunitas bisa berkurang dan meningkatkan inflamasi pada tubuh yang akhirnya tubuh menjadi mudah terserang virus atau apapun yang ada di lingkungan kita,” bebernya. (Koran Sindo)