Dorong Penerapan QRIS, BI Sulut Digitalisasi Pembayaran di Pasar Segar Paal Dua

oleh -
Kepala KPw Bank Indonesia Sulut, Arbonas Hutabarat bersama Wamendag Jerry Sambuaga saat pelaksanaan program digitalisasi pembayaran di Pasar Segar Paal Dua, Kamis (25/2/2021). (FOTO: Fernado Rumetor)

MANADO – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengadakan program digitalisasi pembayaran dan penyerahan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) di Pasar Segar Paal Dua Manado.

Bank Indonesia bersama Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP), berkomitmen untuk terus mendorong perluasan penggunaan QR Code Indonesian Standard (QRIS) dengan target 12 juta merchant di 2021.

“Penggunaan QRIS ini menjadi salah satu upaya mendukung program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) sekaligus mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),” ujar Kepala KPw BI Sulut, Arbonas Hutabarat dalam sambutannya, Kamis (25/2/2021).

Pelaksanaan program digitalisasi transaksi pembayaran di Pasar Segar Paal Dua Manado sendiri merupakan salah satu bentuk sinergi dari berbagai pihak yakni pemerintah pusat dan daerah, PJSP, otoritas terkait lainnya, serta masyarakat yang ada.

“Kolaborasi yang semakin kuat antara BI, pemerintah, dan industri baik di tingkat pusat maupun daerah akan semakin mengakselerasi transformasi digital Indonesia. Komitmen tersebut juga dilakukan melalui sejumlah langkah peningkatan atau perluasan jaringan dan fasilitasi penggunaan QRIS melalui merchant,” pungkasnya.

Untuk mendukung ekosistem digitalisasi di Pasar Segar Paal Dua dapat berjalan dengan baik, Bank Indonesia memberikan Program Sosial Bank Indonesia berupa bantuan wifi selama satu tahun, sehingga pedagang, pengunjung dapat terbiasa melakukan transaksi pembayaran secara digital yang banyak keuntungannya.

Selain itu, KPw BI Sulut juga akan memberikan smart TV sebagai mediasi sosialisasi penggunaan digitalisasi, QRIS, informasi harga dan dapat digunakan sebagai media sosialisasi lainnya. Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dilakukan oleh KPw BI Sulut mengenai penggunaan QRIS dan manfaatnya bagi masyarakat.

Pada masa pandemi Covid -19, BI bersama ASPI dan PJSP juga mengembangkan QRIS Tanpa Tatap Muka (QRIS TTM). QRIS telah diterapkan sebagai salah satu metode pembayaran di berbagai sektor, sehingga mendorong efisiensi perekonomian.

Manfaat yang diperoleh tidak terbatas untuk transaksi perdagangan ritel di berbagai komunitas baik di pasar tradisional maupun modern dan universitas. QRIS juga digunakan untuk e-ticketing pariwisata, pendidikan, pesantren, transportasi, parkir, e-retribusi Pemda, donasi sosial dan keagamaan.

Per Desember 2020, kata Arbonas, total merchant QRIS nasional mencapai 5.781.112. Adapun di Bumi Nyiur Melambai sendiri telah mencapai 41.803 merchant QRIS atau masih sebesar 14% dari total UMKM yang tercatat di Sulut, yakni sebesar 292.122.

“Berdasarkan data tersebut potensi untuk pengembangan QRIS di Sulut masih sangat besar dan menjadi market menarik bagi PJSP serta menjadi potensi peningkatan transaksi digital di masyarakat, cepat, mudah, efisien, menguntungkan, dan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” beber Arbonas.

Tahun ini sendiri diharapkan pencapaian merchant QRIS dapat mencapai sebanyak 12 juta, dan di Sulut sendiri sebanyak 86 ribu. Dengan strategi 3 OK, Optimalisasi Outcome, Optimalisasi kinerja, Optimalisasi SDM dengan Kolaborasi, Kemitraan dan Komunikasi lintas sektor lintas instansi dengan pemerintah daerah, PJSP bank dan Non bank, serta pihak-pihak terkait lainnya. “Kami optimis harapan tersebut dapat tercapai,” kuncinya.

Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga yang juga ikut hadir dalam kegiatan ini menyampaikan apresiasi kepada BI Sulut yang telah melakukan pengembangan digitalisasi pembayaran bagi para pedagang di Pasar.

“Intinya kita mau pembayaran digital itu dikembangkan. Dengan menggandeng BI menggunakan QRIS ini, dia tidak sampai 5 detik. Tinggal scan, masukan jumlah, langsung masuk ke rekening pedagang,” beber Sambuaga.

Ditambahkannya, literasi akan keuangan dan digital penting di tengah pandemi Covid-19 karena akan membuat pembayaran menjadi lebih praktis, lebih efisien. “Dan mudah-mudahan ini bisa mendukung program pemerintah dan Bank Indonesia,” tutupnya. (Fernando Rumetor)