Rumah Nusantara Dialog Bahas Transnational Crime, Winsulangi: Perhatikan Kesejahteraan Masyarakat

oleh -
Dialog Interaktif yang digagas oleh Rumah Nusantara berjalan apik. (Foto: Fernando Rumetor)

MANADO – Rumah Nusantara, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Sulawesi Utara (Sulut) berinisiatif menggelar dialog interaktif yang membahas tentang penanggulangan transnational crime atau kejahatan lintas negara pada Kamis (3/6/2021) kemarin.

Lebih spesifik pembahasan dalam dialog yang dilaksanakan di Aryaduta Hotel Manado itu menekankan pada peningkatan peran aktif masyarakat, terlebih khusus masyarakat kepulauan yang ada di Sulut, dalam menanggulangi kejahatan lintas negara.

“Saat ini banyak kejahatan seperti illegal fishing, terorisme, itu informasinya berasal dari masyarakat. Mereka yang meneruskan informasi ke aparat pemerintah,” ujar Anggota DPRD Sulut, Winsulangi Salindeho yang menjadi salah satu narasumber.

Menurutnya, peran serta masyarakat nusa utara yang berbatasan langsung dengan Filipina sudah sangat bagus. Akan tetapi, dirinya meminta agar pihak terkait tak hanya melihat dari sisi keamanan saja, melainkan juga kesejahteraan masyarakat.

“Kesejahteraan masyarakat tak kalah pentingnya daripada keamanan mereka. Sehingga masyarakat bisa lebih banyak berpartisipasi lagi dalam upaya memerangi kejahatan antar negara,” tukas Bu Winsu, sapaan akrab Winsulangi.

Dirinya pun sangat setuju dengan gagasan Bupati Talaud, Elly Lasut terkait Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Perbatasan. “Karena hasil-hasil bumi maupun perikanan di perbatasan itu bisa langsung dibawa ke Filipina,” paparnya.

“Harganya jauh lebih murah dan jaraknya juga jauh lebih dekat, berarti ongkosnya juga akan jauh lebih murah. Jadi, saya sangat mendukung itu. Mudah-mudahan pemerintah bisa mengabulkan permintaan pemerintah Talaud itu,” tambah Winsulangi.

Tak hanya di bagian kesejahteraan saja, ia pun meminta agar pemerintah yang pada saat itu dihadiri oleh Kaban Kesbangpol Sulut, Steven Liow yang mewakili Gubernur Sulut, agar juga memperhatikan kesehatan masyarakat di kepulauan.

“Masyarakat di perbatasan ini serba terbatas. Di bidang ekonomi terbatas, di bidang kesehatan terbatas. Nah bagaimana keterbatasan ini bisa dihilangkan, itu yang kita minta agar bisa dicarikan solusinya,” harap Anggota Komisi I DPRD Sulut ini.

Sementara itu, Steven Liow yang juga menjadi narasumber di kegiatan tersebut menyampaikan bahwa Gubernur Sulut, Olly Dondokambey menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan diskusi yang digagas Rumah Nusantara ini.

“Kehadiran kita semua merupakan gambaran akan kesatuan dan tekad kita bersama-sama dalam menanggulangi permasalahan kejahatan transnasional di wilayah perbatasan Indonesia dan Filipina,” sebut Liow membacakan sambutan Gubernur Olly.

Kata Liow, Olly menyadari betul bahwa selain posisi Sulut yang berada di bibir pasifik sangat menguntungkan karena Sulut akan lebih dekat dengan aktivitas perekonomian dunia karena bisa menjadi jalur perdagangan dunia dan menjadi pusat distribusi barang.

“Disisi lain, Sulut pun menjadi dekat dengan berbagai permasalahan transnasional. Untuk itu, kita mengharapkan konsisten dari semua pemangku kepentingan dan juga masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan dan ancaman kejahatan lintas negara,” beber Liow.

Oleh karena itu, kegiatan dialog ini sangat strategis dalam menyamakan pemahaman dan menyatukan persepsi untuk meningkatkan peran dalam menyikapi dan menanggulangi kejahatan lintas negara di wilayah perbatasan.

“Untuk itu mari kita bersatu dalam tekad dan komitmen, saling bersinergi, bekerja bersama mendukung pertahanan dan keamanan di wilayah perbatasan. Demi kemajuan Sulut dan kesejahteraan serta keutuhan NKRI,” paparnya.

Turut hadir dalam dialog itu Dekan Fakultas Hukum Unsrat, Flora Kalalo sebagai pembicara dan Taufik Tumbelaka sebagai moderator. Hadir juga Forkopimda Sulut, akademisi, pelajar SMA, mahasiswa, serta beberapa Ormas dan LSM di Sulut. (Fernando Rumetor)