Perjalanan Sukses Restoran Terung Tempurung, Pernah Diteror dan Nyaris Tutup karena Kurang Pengunjung

oleh
Imelda Moningka, pengelola Restoran Terung Tempurung, Nuansa Alam Ranosaut. (FOTO: Sindomanado.com)

CLAUDIA RAHIM
MINAHASA

Di balik perjalanan sukses sebuah usaha, selalu ada pelajaran kehidupan yang bisa dipetik. Jatuh bangun jangan membuat rapuh. Kesabaran pasti berbuah manis. Hal itu nyata dialami pengelola Nuansa Alam Ranosaut Terung Tempurung di Desa Suluan, Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa.

Delapan tahun membangun usaha restoran dengan menu khas masakan Minahasa, bukan perkara mudah. Bukan sedikit keringat dan air mata yang jatuh. Rasa lelah fisik dan mental juga pernah menghinggap.

Dalam kesempatan berbincang santai dengan SINDOMANADO.COM, Pengelola Restoran Terung Tempurung, Imelda Moningka berbagi cerita lika liku perjuangannya membangun usaha kuliner.

Dia tampak bersemangat menceritakan masa lampau yang dialami ketika merintis, tertatih dan akhirnya mencapai tangga sukses.

“Kami memulai usaha ini dengan perjuangan. Tidak instan. Tidak langsung banyak pengunjung. Di tahun kelima, kami hampir saja tutup, karena pengunjung sangat kurang,” ucap Imelda.

Niat hati menutup usaha, tidak gegabah dilakukan. Imelda mengurungkan niat karena percaya suatu saat nanti, Sang Pencipta pasti akan membukakan jalan.

“Kesabaran. Itu yang paling penting dan membuat kami tidak jadi menutup usaha ini,” ucapnya.

Bukan hanya kurangnya pengunjung, tantangan besar lain yang pernah hinggap adalah dirinya pernah diteror warga. Suasana mencekam. Banyak yang datang protes di tempat usahanya sambil teriak-teriak.

“Saya ingat waktu itu musim pertandingan sepak bola dunia dan kami memasang bendera-bendera. Namun ada tuduhan bahwa salah satu bendera yang kami pasang adalah bendera PKI,” ungkap perempuan yang akrab disapa Mel, ini.

Bukan hanya sampai diteror, akibat salah sangka itu, ia ditahan satu malam di balik jeruji besi. “Syukur kepada Tuhan. Tidak terbukti. Jadi akhirnya saya dikeluarkan,” kenang Imelda.

Restoran Terung Tempurung kini sudah dikenal, bukan hanya masyarakat Sulawesi Utara (Sulut), tapi juga pelancong dari luar.

Semangat memang tak boleh kendor meski kesulitan melilit. Semangat juang yang dijaga membuat nama Restoran Terung Tampurung melejit di Tahun 2018. Kini, meski pandemi Covid-19 masih melanda, setiap hari tempat ini dikunjungi sekira 100-150 orang. Bahkan di akhir pekan, penjungjung meningkat hingga 300 orang. “Kami bersyukur. Ada waktu yang ternyata disiapkan Tuhan bagi kami,” ucapnya.

“Bagi yang baru mau membangun usaha, atau masih merintis usaha, kuncinya adalah takut akan Tuhan dan sabar dengan semua proses yang ada dan tentunya harus terus semangat,” pesannya.

Nuansa Alam Terung Tempurung cukup memukau, hijau tertata memanjakan mata. Mengunjungi tempat ini sejenak membuat lupa hiruk pikuk perkotaan. Sesekali, kita butuh pelukan alam yang memberi energi baru untuk siap berlari lagi. (*)