MANADO – Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo, Robert Sianipar, mengungkapkan masih terdapat kesenjangan antara tingkat inklusi dan literasi keuangan masyarakat di wilayah Sulut dan Gorontalo.
Berdasarkan survei tahun 2025, indeks inklusi keuangan telah mencapai 80,51 persen. Namun literasi keuangan baru berada di angka 66,46 persen.
“Gap-nya masih cukup besar dan kita akan terus meningkatkan literasi untuk memperkecil gap ini,” ujar Robert dalam Media Update Triwulan I 2026, Rabu (4/3/2026).
Sepanjang 2025, OJK SulutGo telah menyelenggarakan 105 kegiatan edukasi yang menjangkau 699.663 peserta di seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Utara dan Gorontalo.
Kata Robert, sasaran program edukasi ini meliputi pelajar, mahasiswa, perempuan, UMKM, penyandang disabilitas hingga masyarakat di wilayah 3T.
Selain edukasi langsung, OJK juga menggelar program OJK Penggerak Duta Literasi Keuangan (OJK Peduli) melalui kegiatan Training of Trainers (TOT) bagi perangkat desa, mahasiswa, dosen, dan ASN.
Untuk meningkatkan inklusi keuangan, OJK bersama pemerintah daerah membentuk Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).
Berbagai program dijalankan, termasuk Satu Rekening Satu Pelajar (Kejar) dan implementasi Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI).
Robert juga menyampaikan realisasi penyaluran KUR melalui kolaborasi dengan Bank SulutGo hingga 31 Desember 2025 mencapai Rp220,86 miliar kepada 6.407 debitur.
“OJK berkolaborasi dengan Bank SulutGo dan pemerintah daerah sudah merealisasikan empat perjanjian kerja sama untuk komoditas unggulan seperti sapi potong di Kabupaten Gorontalo, jagung di Boalemo, kacang Kawangkoan dan kerajinan kelapa di Minahasa,” jelasnya.
Menurut Robert, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah berbasis potensi lokal. (nando)


Tinggalkan Balasan