MANADO – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara mencatat inflasi bulan ke bulan (month-to-month/m-to-m) pada Februari 2026 sebesar 1,02 persen. Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), inflasi tercatat 4,64 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) mencapai 1,69 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Utara, Agus Sudibyo, mengatakan inflasi Februari 2026 lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.
“Pada Februari 2026 terjadi inflasi sebesar 1,02 persen secara month-to-month. Secara year-on-year, inflasi tercatat 4,64 persen, dan inflasi tahun kalender sebesar 1,69 persen. Tingkat inflasi bulan Februari 2026 lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya,” ujar Agus dalam rikis, Senin (2/3/2026).
Cabai Rawit Dominasi Pendorong Inflasi
Agus menjelaskan, komoditas cabai rawit menjadi penyumbang inflasi terbesar secara bulanan dengan andil 0,61 persen. Kenaikan harga cabai rawit dipicu berkurangnya pasokan dari Gorontalo akibat berakhirnya musim panen.
Selain cabai rawit, komoditas lain yang turut mendorong inflasi m-to-m adalah daun bawang dengan andil 0,17 persen, emas perhiasan 0,16 persen, tomat 0,14 persen, dan mobil 0,08 persen.
“Kenaikan harga daun bawang terjadi karena terbatasnya pasokan akibat belum memasuki masa panen. Sementara harga emas perhiasan meningkat seiring pergerakan harga emas global yang pada Februari 2026 mencapai sekitar US$5.100 per troy ounce,” jelasnya.
Di sisi lain, beberapa komoditas menjadi penahan inflasi, antara lain bawang merah dengan andil -0,12 persen, daging babi -0,06 persen, beras -0,03 persen, ikan deho -0,03 persen, serta ikan selar/ikan tude -0,03 persen.
Penurunan harga bawang merah, lanjut Agus, dipengaruhi melimpahnya stok akibat musim panen di daerah sentra produksi seperti Makassar, Palu, dan Bima.
Kelompok Pengeluaran Penyumbang Inflasi
Secara m-to-m, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi 2,11 persen dengan andil 0,69 persen terhadap inflasi umum. Kelompok transportasi juga mencatat inflasi 0,95 persen dengan andil 0,12 persen.
Sementara itu, secara y-on-y, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi tertinggi sebesar 16,71 persen dengan andil 2,30 persen. Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi 3,29 persen dengan andil 1,10 persen.
Adapun komoditas dominan pendorong inflasi tahunan adalah tarif listrik dengan andil 2,25 persen, emas perhiasan 0,79 persen, daun bawang 0,40 persen, beras 0,31 persen, serta ikan malalugis/ikan sorihi 0,26 persen.
Sebaliknya, komoditas yang menahan inflasi y-on-y antara lain daging babi dengan andil -0,68 persen, tomat -0,14 persen, cabai rawit -0,09 persen, bawang putih -0,09 persen, dan cabai merah -0,03 persen.


Tinggalkan Balasan