“Kami terus melakukan monitoring dan juga kita selalu melakukan build up stok. Jika ada SPBU yang mengalami stok kritis, kita akan terus melakukan pemantauan,” ujarnya.

Sales Branch Manager Sulutgo I Fuel Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Muhammad Agung Afrizal, menambahkan pihaknya juga telah melakukan pengoptimalan distribusi biosolar dengan memastikan ketersediaan stok di jalur-jalur padat sebelum SPBU beroperasi.

“Biosolar ini kondisi saat ini kita sudah melakukan upaya pengoptimalan yaitu saat SPBU buka itu sudah ada stok biosolar terutama di jalur lintas seperti Ring Road, kemudian ada Kairagi, kemudian ada Malalayang, di situ juga ada wilayah Sario. Itu sudah ada stok jadi tidak perlu lagi menunggu pengiriman,” jelasnya.

Ia pun menjelaskan, petugas marshal bertugas mengatur antrean agar tidak menimbulkan kericuhan, sekaligus mewajibkan SPBU berkoordinasi dengan kepolisian sektor setempat.

“Dan juga Marshalling ini kita minta atau mewajibkan SPBU juga untuk menghubungi kepolisian sektor setempat, Polsek setempat untuk membantu pengawasan dalam penyaluran,” ucapnya.

“Kita juga monitoring SOP penyaluran di mana SOP penyaluran ini bahwa operator ini wajib untuk mencocokkan antara nomor polisi dengan QR code-nya. Jadi, penyalurannya ini dapat terekord dan dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.

Terkait kuota, Agung menjelaskan penyaluran biosolar di Sulawesi Utara ditetapkan pemerintah melalui BPH Migas dengan anggaran berbasis APBN, dan saat ini masih dalam koridor kuota meski sempat sedikit melebihi hingga Juni 2026.

“Untuk penyaluran sendiri saat ini masih on kuota untuk Sulawesi Utara. Untuk sampai dengan bulan Juni itu mungkin ada over sedikit, enggak begitu banyak, tapi itu dimaksudkan untuk mengoptimalkan penyaluran,” jelasnya. (nando)