MANADO – Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara menegaskan bahwa penguatan produksi pangan dari sisi hulu dan kerja sama antardaerah menjadi kunci mengatasi ketergantungan Sulawesi Utara terhadap pasokan pangan dari luar daerah.

Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, di sela kegiatan Sinergi Pasar Murah HUT ke-73 BI di Manado, Selasa (21/7/2026).

Joko menjelaskan pasar murah hanyalah solusi jangka pendek, sementara penguatan jangka menengah dan panjang perlu dilakukan melalui peningkatan produktivitas pertanian.

“Pasar murah ini bukan satu-satunya solusi untuk mengendalikan harga. Sejalan dengan arah gerakan pengendalian inflasi pangan strategis tahun 2026, upaya jangka pendek yang kita lakukan sekarang harus diimbangi dengan berbagai macam penguatan untuk jangka menengah dan jangka panjang,” ujarnya.

Menurutnya, langkah tersebut ditempuh antara lain melalui optimalisasi good agriculture practices guna meningkatkan produksi pertanian lokal yang selama ini belum mencukupi kebutuhan internal Sulawesi Utara.

Selain itu, BI juga mendorong penguatan kerja sama antardaerah (KAD) yang berbasis business to business.

“Harus berbasis bisnis to bisnis. Tidak hanya government to government, tidak hanya pemerintah ke pemerintah, tapi harus ditindaklanjuti dari sisi para pengusaha ke pengusaha,” kata Joko.

Ia menyebut BI telah memfasilitasi sejumlah kerja sama antardaerah, di antaranya antara Minahasa Selatan dengan Gorontalo, Minahasa Utara dengan Gorontalo, serta Minahasa dengan Sidrap dan Enrekang, khususnya untuk memenuhi kebutuhan bawang merah dan beras.

Dari sisi hulu, BI juga terus memperkuat produksi melalui pembinaan Petani Unggulan Sulawesi Utara atau Patua.

“Pendampingan ini dilakukan secara komprehensif mulai dari pelatihan budidaya komoditas yang memang strategis, kemudian juga kita memberikan fasilitasi sarana dan alat mesin pertanian, kemudian juga kita melakukan pendampingan sampai dengan proses produksi, bahkan beberapa sudah kita dampingi sampai dengan hilirisasi,” jelas Joko.

Ia menambahkan sejumlah petani binaan BI bahkan telah memasuki era digital farming. “Beberapa petani kita sudah memasuki yang namanya digital farming. Jadi era digital memang memasuki semua sektor termasuk pertanian,” katanya.

Joko berharap produktivitas komoditas strategis seperti cabai rawit, tomat, dan padi dapat terus meningkat sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat dikurangi secara bertahap.

“Tidak bisa cepat memang, memang harus kita secara bertahap,” pungkasnya. (nando/*)