MANADO – Setelah mengalami deflasi cukup dalam pada Juli 2026, harga-harga konsumen di Sulawesi Utara kembali bergerak naik pada Agustus.
Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara mencatat inflasi secara month-to-month (m-to-m) sebesar 0,29 persen pada Agustus 2026.
Angka ini berbalik arah dibandingkan Juli 2026 yang mengalami deflasi 1,05 persen. Dengan demikian, terjadi perubahan sebesar 1,34 poin persentase dalam pergerakan harga dari Juli ke Agustus.
Kenaikan harga pada Agustus terutama didorong oleh sejumlah komoditas pangan dan transportasi.
“Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar inflasi m-to-m Sulawesi Utara dengan andil 0,33 persen,” ucap Kepala BPS Sulut, Watekhi dalam rilis pada Selasa (1/9/2026).
Setelah cabai rawit, tekanan harga datang dari kangkung dengan andil 0,14 persen, angkutan udara 0,09 persen, daun bawang 0,07 persen, dan cabai merah 0,06 persen.
Kenaikan harga cabai rawit dan kangkung tidak lepas dari kondisi pasokan. Dalam catatan peristiwa BPS Sulut, kondisi cuaca dan musim kemarau menyebabkan hasil panen sejumlah daerah penghasil berkurang. Kondisi tersebut kemudian ikut mendorong kenaikan harga di pasar.
Sektor transportasi juga memberikan tekanan. Angkutan udara menyumbang 0,09 persen terhadap inflasi bulanan Agustus.
“Kenaikan tarif terjadi seiring berakhirnya periode promosi selama libur sekolah dan meningkatnya permintaan pada periode arus balik,” tuturnya.
Namun, kenaikan harga tidak terjadi pada seluruh komoditas. Sejumlah bahan pangan justru menjadi penahan inflasi.
Tomat menjadi komoditas dengan andil penahan terbesar, yakni minus 0,48 persen.
Selanjutnya terdapat bawang merah dengan andil minus 0,07 persen, bawang putih minus 0,06 persen, serta ikan selar/ikan tude dan daging babi yang masing-masing memberikan andil minus 0,04 persen.
“Penurunan harga tomat dan bawang merah terjadi di tengah meningkatnya pasokan akibat hasil panen yang melimpah dari daerah sentra produksi,” ungkap Watekhi.
Secara kelompok pengeluaran, makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi 0,57 persen dengan andil 0,19 persen. Sementara kelompok transportasi mengalami inflasi 0,71 persen dengan andil 0,09 persen.
Kondisi ini membuat Agustus menjadi bulan ketika tekanan harga kembali terasa setelah deflasi pada bulan sebelumnya.
Meski inflasi bulanan hanya 0,29 persen, pergerakan harga menunjukkan adanya tekanan dari komoditas pangan tertentu serta transportasi yang perlu diperhatikan. (nando)

