MANADO – Masyarakat Sulawesi Utara harus menghadapi tekanan kenaikan harga pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara mencatat inflasi year on year (y-on-y) mencapai 3,99 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 2,53 persen.
Secara bulanan, Sulawesi Utara juga mengalami inflasi sebesar 0,29 persen. Sementara inflasi tahun kalender hingga Agustus 2026 tercatat 3,68 persen.
“Kenaikan harga pangan menjadi salah satu pemicu utama. Cabai rawit menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi Agustus, yakni 0,50 persen,” ujar Kepala BPS Sulut, Watekhi dalam rilis pada Selasa (1/9/2026).
Selain cabai rawit, sejumlah komoditas lain juga ikut mendorong inflasi. Di antaranya angkutan udara dengan andil 0,48 persen, emas perhiasan 0,47 persen, daun bawang 0,24 persen, serta ikan cakalang/ikan sisik 0,24 persen.
Kenaikan harga cabai rawit dan kangkung pada Agustus terjadi di tengah kondisi cuaca dan musim kemarau yang berdampak terhadap hasil panen.
“Berkurangnya pasokan dari daerah penghasil kemudian ikut mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen,” ucapnya.
Tekanan inflasi juga datang dari sektor transportasi. Harga angkutan udara meningkat seiring berakhirnya periode promosi selama libur sekolah serta meningkatnya permintaan pada periode arus balik.
Meski sejumlah komoditas mengalami kenaikan, tidak semua harga bergerak ke arah yang sama. Tomat justru menjadi komoditas dengan andil penahan inflasi terbesar, yakni minus 0,48 persen.
“Penurunan juga terjadi pada harga bawang merah dengan andil minus 0,31 persen dan beras minus 0,22 persen. Melimpahnya hasil panen dari daerah sentra produksi membuat stok tomat dan bawang merah meningkat sehingga harga kembali turun,” jelasnya.
Dari sisi kelompok pengeluaran, makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi 5,60 persen dengan andil 1,85 persen. Kelompok transportasi mencatat inflasi 6,99 persen dengan andil 0,85 persen.
Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi tertinggi, yakni 8,65 persen, dengan andil 0,55 persen.
Data tersebut menunjukkan tekanan harga di Sulawesi Utara pada Agustus 2026 tidak hanya bersumber dari kebutuhan pangan.
Pergerakan tarif transportasi serta sejumlah kebutuhan masyarakat lainnya juga turut memengaruhi perkembangan inflasi. (nando)

