DI sudut Kelurahan Batuputih Bawah, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, aroma ikan cakalang yang sedang dimasak menjadi abon menyeruak dari sebuah bangunan yang dulunya hanya garasi mobil.
Di situlah Margareta Kakante membesarkan mimpinya bernama Ramantha Kitchen — usaha olahan hasil laut yang kini produknya melintasi lautan hingga ke Timor Leste dan Tiongkok.
Ceritanya dimulai jauh sebelum nama Ramantha Kitchen dikenal orang. Awalnya, Margareta mengaku terinspirasi dari kebiasaannya jalan-jalan ke Pulau Jawa dan berburu oleh-oleh khas daerah pada tahun 2017-2018. Saat pulang ke Sulawesi Utara, ia justru merasa ada yang kurang.
“Jadi karena saya dan suami hobi jalan-jalan, terus kita suka melihat oleh-oleh dari beragam tempat yang kita kunjungi. Dari situlah saya terinspirasi, kenapa saya tidak coba untuk membuat sesuatu, makanan, yang bisa dijadikan oleh-oleh,” tutur Ibu satu anak itu.
“Kalau di jawa sana oleh-olehnya ada yang kayak keripik kangkung, tapi kalau di Bitung sini kan kangkung hanya dijadikan sayur pelengkap masakan. Saya lihat-lihat lagi di Kota Bitung itu punya maskot ikan cakalang, kenapa tidak kita angkat potensi itu,” katanya mengenang titik awal usahanya pada 2019, setahun sebelum pandemi Covid-19 melumpuhkan banyak sektor usaha kecil.
Awalnya, dapur produksi menyatu dengan dapur rumah tangga. Namun pada 2020, Margareta mendapat informasi bahwa aturan BPOM mengharuskan dapur produksi terpisah dari tempat tinggal. Ia pun berkonsultasi dengan Dinas Kesehatan setempat, dan dari situ muncul solusi sederhana: bekas garasi rumah disulap menjadi ruang pengemasan dan dapur produksi yang terpisah dari rumah tinggal.

Dari garasi itu pula lahir filosofi bisnis yang terus dipegang Margareta hingga kini. “Bisnis yang berjalan dengan baik itu saat usahanya jalan, tapi pemiliknya juga bisa jalan-jalan. Kita tidak boleh menjadi beban, harus terus turun tangan sendiri di dapur,” ujarnya.
Perempuan yang lahir dan besar di Kota Bitung ini menyebut prinsip itu ia pelajari dari cara restoran cepat saji bertahan di berbagai negara karena mereka menjaga rahasia resepnya.
Tumbuh Bersama Bank Indonesia
Perjalanan Ramantha Kitchen tidak lepas dari uluran tangan Bank Indonesia (BI), yang menurut Margareta hadir bukan sekadar memberi bantuan materi, tetapi membentuk cara berpikirnya sebagai pelaku usaha.
Margareta sendiri merupakan lulusan Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI) Angkatan 2021, program pembinaan BI yang menjadi salah satu fondasi awal berkembangnya Ramantha Kitchen.

“Bantuan dari Bank Indonesia itu sangat fokus pada pelatihan pola pikir pelaku usaha. Kami diajarkan cara mengelola usaha, sampai dihubungkan dengan pasar ritel, sehingga tidak hanya sebatas produksi tapi juga bisa membawa produk ke pasar lokal, nasional, sampai internasional,” tuturnya.
Selain pendampingan mindset, BI juga memberikan bantuan peralatan produksi yang mendukung kapasitas produksi harian Ramantha Kitchen yang kini bisa mencapai 4 ton.
Selain itu, Margareta juga kerap diundang BI sebagai narasumber pelatihan maupun gelar wicara seputar pengembangan UMKM, sebuah peran yang menurutnya membuka jalan bagi Ramantha Kitchen untuk menjadi tempat belajar pelaku UMKM lain.
Ia mencontohkan peserta dari Gorontalo yang pernah datang belajar selama dua hari, serta pelaku UMKM binaan Dinas Perdagangan Kota Bitung yang berlatih langsung di lokasinya selama lima hari berturut-turut.

