Andil Bank Indonesia Perkuat Pengembangan UMKM
Bank Indonesia (BI) terus memperkuat peran dan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sulawesi Utara melalui berbagai program pengembangan yang mencakup peningkatan kapasitas, perluasan akses pasar, pembiayaan, hingga transformasi digital.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Urban Digifest 2026 yang berlangsung pada 12-16 Agustus 2026. Kegiatan yang merupakan bagian dari Road to Karya Kreatif Indonesia (KKI) ini melibatkan 233 pelaku UMKM dari berbagai sektor.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 127 UMKM bergerak di bidang makanan dan minuman kemasan, 50 UMKM wastra, kerajinan dan kriya, 28 UMKM kopi, 20 UMKM ready to eat, tiga UMKM pangan, serta lima UMKM pendukung desa wisata.
Kepala Perwakilan BI Sulawesi Utara Joko Supratikto mengatakan, Urban Digifest tidak hanya diarahkan untuk mendorong transaksi selama kegiatan berlangsung. Lebih dari itu, kegiatan tersebut dirancang sebagai sarana untuk memperkuat kapasitas UMKM, membuka akses pasar dan pembiayaan, sekaligus mendorong pelaku usaha beradaptasi dengan perkembangan digital.

Penguatan UMKM juga dilakukan BI Sulut melalui berbagai program lainnya, antara lain business matching pembiayaan, promosi perdagangan dan ekspor, peningkatan kapasitas pelaku usaha, edukasi perlindungan konsumen, serta berbagai lokakarya yang memberikan keterampilan praktis bagi UMKM.
Digitalisasi menjadi salah satu fokus penting dalam pengembangan UMKM. Melalui program Onboarding UMKM Go Digital, BI mempersiapkan pelaku usaha di Sulawesi Utara untuk memanfaatkan ekosistem digital, baik dalam memperluas pasar maupun mengadopsi sistem pembayaran digital.
Program tersebut telah berlangsung selama empat bulan, mulai Mei hingga Agustus 2026. Upaya digitalisasi juga diperkuat melalui pemanfaatan QRIS sebagai salah satu sarana transaksi bagi pelaku UMKM dan masyarakat.
“Transformasi tersebut juga kami perkuat melalui QRIS sebagai media transaksi utama, sehingga Urban Digifest sekaligus menjadi laboratorium nyata untuk memperluas akseptasi pembayaran digital bagi UMKM dan masyarakat,” kata Joko.
Menurut Joko, pengembangan UMKM membutuhkan dukungan yang berkelanjutan dan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Karena itu, sinergi antara pemerintah, perbankan, dunia usaha, komunitas, akademisi, media, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem usaha yang semakin kuat.
“Ketika UMKM Kawanua naik kelas, produk lokal semakin berdaya saing, wirausaha baru tumbuh, dan ekonomi daerah semakin produktif, maka Sulawesi Utara turut memberikan kontribusi yang semakin besar bagi ekonomi Indonesia,” pungkasnya.
Dari Rp30 Juta ke Pasar Ekspor
Setelah merintis usaha hampir 6 tahun, kini omzet usaha Ramantha Kitchen berkisar Rp30 hingga Rp40 juta per bulan. Produk-produknya bahkan sudah merambah pasar luar negeri, lewat ekspor ke Timor Leste melalui yayasan di Surabaya pada 2023 silam.
Selain itu, sertifikasi HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) Grade B yang terbit Juli lalu, serta Sertifikat GMP (Good Manufacturing Practice) yang telah didapatkan semakin memantapkan langkah Ramantha Kitchen untuk ekspansi ke pasar internasional, salah satunya Tiongkok.
“Mimpi besar Ramantha Kitchen adalah menjadi produk olahan ikan unggulan Sulawesi Utara yang dikenal secara internasional,” kata Margareta. Baginya, mengolah cakalang menjadi produk bernilai tambah adalah cara membela nasib nelayan dan masyarakat pesisir yang selama ini hanya menjual ikan mentah dengan harga rendah.
Saat ini terdapat 18 varian produk Ramantha Kitchen, mulai dari Abon Cakalang rasa pedas dan orisinal, Abon Tuna, lima jenis sambal — Sambal Roa, Sambal Teri, Sambal Tuna, Sambal Cakalang Fufu, dan Sambal Tude Oci — hingga keripik pisang dengan empat varian rasa.

Jumlah itu bertambah menjadi 20 varian jika ditambah dua inovasi zero waste terbarunya: Cakalang Cookies, biskuit kaya kalsium dari olahan tulang ikan yang menyasar konsumen anak-anak, serta Pupuk Organik Cair (POC) dari limbah insang dan jeroan ikan yang saat ini masih dalam tahap penelitian dan pendampingan dinas terkait.
Prestasi demi prestasi pun mengikuti kerja keras itu. Pada 2024, Ramantha Kitchen meraih UKM Pangan Award dari Kementerian Perdagangan dengan nilai tertinggi dan masuk 10 UMKM terbaik se-Indonesia.
Terbaru, pada Mei 2026, inovasi Crispy Tuna Fish Floss miliknya membawa Ramantha Kitchen meraih medali perak dalam pameran SIAL Shanghai 2026 di Shanghai, dimana dirinya bersaing dengan peserta dari Turki, Jerman, hingga Tiongkok.

Berdiri di Atas Kaki Sendiri
Meski menerima berbagai dukungan, Margareta menegaskan usahanya tidak ingin bergantung pada bantuan. “Kami ingin berusaha mandiri, tidak selalu bergantung pada program bantuan gratis dari pemerintah, tapi berusaha membangun di atas kaki sendiri,” ungkapnya.
Prinsip itu diwujudkan dengan menggaji pekerja dan membentuk sistem kerja, agar orang-orang di sekitarnya tidak terjebak rutinitas mencuci piring atau bangun subuh setiap hari hanya untuk berproduksi.
Perempuan kelahiran 2 Maret 1992 itu turut mempekerjakan sekitaran 20 ibu-ibu yang ada di Kelurahab Batu Putih Atas dan Kelurahan Batu Putih Bawah. “Seluruh pekerja saya dari dua kelurahan ini. Itung-itung juga untuk membantu perekonomian mereka,” kata Margareta.

Keberadaan homestay di kawasan Batu Putih turut menopang usahanya, karena wisatawan bisa langsung berkunjung ke lokasi produksi. Bagi Margareta, semua pencapaian ini bermuara pada satu keyakinan sederhana: rezeki sudah diatur Tuhan dan tidak akan tertukar dengan siapa pun.
Filosofi itu pula yang ia rangkum dalam motto hidupnya — terus bertumbuh, terus berkarya, terus memberi manfaat — sebuah kalimat yang tampaknya bukan sekadar slogan, melainkan gambaran nyata perjalanan Margareta Kakante dari sebuah garasi di Batuputih Bawah hingga membawa nama cakalang Bitung berkibar di kancah internasional.

