JAKARTA – Indonesia terus memperkuat langkah untuk mewujudkan visi sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia melalui pengembangan industri halal, pendalaman pasar keuangan syariah, serta penguatan sinergi dan transformasi digital.
Upaya tersebut tercermin dalam penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 Tahun 2026 yang mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital” dengan semangat “Kebaikan untuk Semua”.
ISEF 2026 dibuka secara resmi oleh Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dradjad Hari Wibowo di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada 14 Oktober 2026.
Dalam momentum tersebut, Bank Indonesia meluncurkan tiga program unggulan untuk memperkuat pasar keuangan syariah, tata kelola zakat, dan pengembangan sumber daya manusia.
Program pertama adalah Islamic Financial Market Code of Conduct (ICoC), yakni pedoman transaksi pasar keuangan syariah yang disusun oleh Asosiasi Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing Indonesia (APUVINDO) serta Indonesia Islamic Global Market Association (IIGMA), bersama Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pedoman tersebut ditujukan untuk memperkuat integritas dan efisiensi pasar keuangan syariah.
Program kedua adalah Indeks Penerapan Prinsip Utama Zakat 2.0 atau Zakat Core Principles (ZCP). Indeks hasil pembaruan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Bank Indonesia ini dilengkapi dimensi manajemen risiko untuk memperkuat tata kelola zakat.
Adapun program ketiga berupa beasiswa internasional bagi mahasiswa asing melalui pemanfaatan dana sosial syariah.
Program ini diharapkan mendukung pencetakan sumber daya manusia unggul, mengoptimalkan pemanfaatan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) secara produktif, serta memperluas pengenalan ekonomi syariah.
Penguatan ekosistem tersebut didukung oleh capaian ekonomi syariah Indonesia. Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia bertahan di peringkat keempat dunia.
Di dalam negeri, rantai nilai halal tumbuh 5,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, penerbitan green sukuk Indonesia sejak 2018 mencapai 7,7 miliar dolar AS di pasar global dan Rp108,9 triliun di pasar domestik per Juni 2026.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan fondasi untuk terus memperkuat ekonomi dan keuangan syariah nasional.
“Capaian ini menjadi fondasi, bukan garis akhir, karena masih terbuka ruang besar untuk meningkatkan pangsa pasar keuangan syariah, memperdalam pasar, dan memperluas literasi, sehingga diperlukan akselerasi melalui sinergi dan transformasi digital,” ujarnya.
ISEF 2026 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 dengan melibatkan mitra ekonomi dan keuangan syariah domestik maupun internasional serta lebih dari 1.000 pelaku industri halal.
Terdapat lebih dari 100 kegiatan luring dan daring yang mempertemukan pelaku usaha dari hulu hingga hilir.
Penyelenggaraan tahun ini juga menghadirkan tiga kebaruan, yakni kolaborasi dengan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, pemanfaatan teknologi digital immersive, serta perluasan partisipasi lintas generasi dan negara.
Untuk menjangkau generasi muda, ISEF menghadirkan kompetisi Video Kreatif Ekonomi Syariah (VITRAH) dan ISEF World Island di platform Roblox.
Inisiatif tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan ekonomi dan keuangan syariah melalui ruang digital yang dekat dengan generasi muda.
Melalui sinergi pemerintah, regulator, industri, akademisi, dan pelaku usaha, ISEF 2026 diharapkan memperkuat rantai nilai halal, memperdalam pasar keuangan syariah, mengoptimalkan keuangan sosial syariah, serta memperluas inklusi melalui transformasi digital demi mewujudkan ekonomi syariah Indonesia yang inklusif dan berdaya saing global. (nando/*)
