KOTAMOBAGU – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Utara mencatat perekonomian Sulawesi Utara pada triwulan I 2026 masih tumbuh positif sebesar 5,54% secara year-on-year (yoy).
Kepala Perwakilan BI Sulawesi Utara, Joko Supratikto, menyampaikan hal itu dalam High Level Meeting (HLM) TP2DD dan TPID Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Selasa (19/5/2026).
Meski capaian itu sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61% (yoy), Joko menegaskan bahwa kondisi itu bukan cerminan pelemahan menyeluruh.
“Posisi Sulut yang berada di bawah nasional bukan disebabkan oleh pelemahan menyeluruh pada perekonomian, melainkan oleh adanya perbedaan kinerja antar komponen,” jelas Joko.
Ia merinci, sektor riil Sulut justru menunjukkan keunggulan, dengan Pertanian tumbuh 5,43%, Transportasi 9,96%, dan Pengolahan 7,53%, semuanya lebih tinggi dari nasional.
Lebih lanjut, konsumsi rumah tangga juga tumbuh 5,93% dan ekspor tumbuh 2,41%, melampaui capaian nasional.
Namun, akselerasi pertumbuhan Sulut tertahan oleh transmisi fiskal. Gap terdalam mencapai 13,9% terjadi pada Konsumsi Pemerintah yang tumbuh jauh lebih rendah dibandingkan nasional.
“Kondisi ini mengindikasikan bahwa transmisi stimulus fiskal dari nasional ke Sulut masih perlu diakselerasi, antara lain karena program prioritas nasional belum sepenuhnya menjadikan Sulut sebagai lokasi implementasi maupun investasi,” ujar Joko.
Dirinya pun mencontohkan hilirisasi industri ayam terintegrasi nasional senilai Rp 2,4 triliun yang justru masuk ke Gorontalo, bukan Sulut.
Untuk ke depan, Joko memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sulut 2026 masih dapat berada di kisaran 5,4%–6,3%.
Ia mendorong akselerasi belanja produktif, peningkatan kualitas investasi dan konstruksi, serta penguatan perdagangan dan hilirisasi sebagai kunci agar Sulut dapat mengejar capaian nasional. (nando)


Tinggalkan Balasan