GORONTALO – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Pemerintah Provinsi Gorontalo, Bank Indonesia, dan industri jasa keuangan terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan masyarakat melalui penyelenggaraan Puncak Bulan Inklusi Keuangan (BIK) Provinsi Gorontalo 2026 yang dirangkaikan dengan FINEXPO BIK Gorontalo.
Kegiatan yang berlangsung pada 30–31 Oktober 2026 di Area Citimall Gorontalo tersebut menjadi salah satu upaya memperluas akses masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan formal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo, Robert H. P. Sianipar, mengatakan peningkatan inklusi keuangan perlu diiringi dengan penguatan literasi serta optimalisasi penyaluran pembiayaan kepada sektor produktif dan unggulan daerah.
Menurutnya, sektor UMKM, pertanian, dan perikanan menjadi bagian penting yang perlu mendapatkan dukungan pembiayaan agar mampu berkembang dan meningkatkan produktivitas.
“Perluasan akses keuangan perlu diiringi dengan penyaluran pembiayaan yang lebih optimal kepada UMKM dan sektor produktif unggulan daerah agar dapat mendorong pengembangan usaha dan meningkatkan produktivitas,” ujar Robert.
Ia menegaskan, keberhasilan inklusi keuangan tidak hanya diukur dari jumlah rekening yang dibuka atau besarnya pembiayaan yang disalurkan, tetapi juga dari sejauh mana layanan keuangan dimanfaatkan secara tepat, produktif, dan berkelanjutan.
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks inklusi keuangan Provinsi Gorontalo mencapai 95,52 persen. Sementara itu, indeks literasi keuangan tercatat sebesar 65,29 persen.
Data tersebut menunjukkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan sudah cukup tinggi. Namun, pemahaman mengenai manfaat, risiko, serta hak dan kewajiban dalam menggunakan produk jasa keuangan masih perlu ditingkatkan.
Tantangan serupa juga terlihat pada sektor keuangan syariah. Indeks literasi keuangan syariah di Gorontalo tercatat sebesar 27,88 persen, sedangkan indeks inklusinya baru mencapai 6,77 persen.
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, menyampaikan bahwa tingginya inklusi keuangan harus diimbangi dengan peningkatan literasi agar masyarakat dapat memanfaatkan layanan keuangan secara bijak, aman, dan sesuai kebutuhan.
Ia menilai capaian inklusi keuangan tersebut menjadi modal penting bagi pembangunan daerah. Namun, masyarakat juga perlu memiliki pemahaman yang memadai agar layanan keuangan dapat mendukung usaha, memperkuat ekonomi keluarga, dan meningkatkan kesejahteraan.
Sepanjang September hingga Oktober 2026, rangkaian kegiatan BIK di Provinsi Gorontalo telah diisi dengan 38 kegiatan literasi dan edukasi keuangan yang menjangkau 5.681 peserta.
