SMK Expo Jadi Ajang Adu Keunggulan Sekolah

oleh
Kasek dan siswa SMK Pelayaran Pelita Bahari Bitung di tengah alat simulator nautika saat pameran SMK Expo. (Ilona Piri)

MANADO-Pameran SMK Expo yang digelar di M-Walk Manado menjadi ajang adu keunggulan inovasi dan kreativitas masing-masing sekolah. Sejumlah pertunjukan yang diperlihatkan mengundang perhatian pengunjung,Rabu (21/8/2019).

Seperti halnya keunggulan SMK Pelayaran Bahari Bitung yang menampilkan Simulator Nautika. Kepala Sekolah (Kasek) SMK Pelayaran Bahari Bitung Revlita Mandagi mengatakan, masih banyak yang belum tahu apa itu nautika.

Dijelaskan Mandagi, nautika merupakan jurusan pelayaran yang berfokus menciptakan lulusan untuk menjadi perwira pelayaran.

“Di nautika, siswa belajar banyak hal, salah satunya navigasi kapal. Tujuannya adalah untuk menjadi perwira, dan sekolah kami lebih terfokus pada pelayaran niaga,” ungkapnya.

Lanjut dia, sebagai bagian dari masa depan pelayaran Sulut, sekolah dengan jurusan nautika harus memilki lisensi resmi dari kementrian perhubungan (Kemenhub).

Dia mengakui, sekolahnya telah mengantongi izin tersebut. Ia juga menuturkan lisensi biasanya disebut Approval yang wajib diperbaharui lima tahun sekali.

Menurut Mandagi, approval dari kementrian perhubungan sangat penting bagi sekolah pelayaran, ia menambahkan untuk Sulut baru dua sekolah termasuk sekolahnya yang mendapat lisensi tersebut.

“Nautika menjadi salah satu jurusan yang di minati di sekolahnya selain teknik pelayaran. Belajar nautika penting bagi mereka yang ingin menjadi perwira kapal,” tuturnya.

Meski memiliki jurusan lain, SMK ini hanya menampilkan pameran nautika, sekaligus menunjukan pada pengunjung simulator navigasi kapal.

Di tengah wawancara, Mandagi menunjukan sejumlah alat-alat navigasi berupa GPS, Radar, Anemometer, kompas magnet, telegraph, dan lain-lain.

“Minat siswa untuk sekolah di pelayaran mulai menurun. Mungkin salah satu penyebabnya biaya yang cukup mahal. Banyak siswa jaman sekarang yang lebih suka sekolah gratis. Mahalnya biaya karena alat-alat praktek mahal juga. Seperti alat-alat yang kami bawa hari ini,” terangnya.

Lulusan Nautika di SMK ini akan memperoleh ijazah Ahli Nautika Tingkat (ANT) IV, dan bisa menjadi perwira kapal sesuai golongannya di kapal-kapal niaga nasional maupun internasional. Mandagi menambahkan untuk bisa punya SDM pelaut Sulut yang baik perlu dukungan pemerintah.

Karena banyak yang sekolah di pelayaran berasal dari keluarga menengah kebawah, sementara alat praktek cukup mahal.

Salah seorang siswa Jurusan Nautika di SMK Pelayaran Pelita Bahari Bitung, Mahani Pontoh mengungkap, dirinya memilih belajar nautika karena tertarik melihat perwira peremuan di atas

kapal.

“Waktu kecil ingin jadi dokter, tapi sekarang ingin jadi perwira kapal. Awalnya tertarik melihat perwira perempuan di atas kapal, jadi memutuskan masuk jurusan nautika. Semakin tertarik lagi ketika merasakan praktek, walau baru di kapal angkutan di perairan Manado, seperti Barcelona dan Venencian yang berangkat ke Sangihe,” ungkapnya.

Di jurusan nautika, ia belajar peta pelayaran menggunakan GPS, dan bagaimana cara berkomunikasi dengan radio. Baginya, merupakan tantangan tersendiri menjadi perempuan pelaut, dirinya harus tau cara membawa kapal yang baik dan benar.

Di tengah ketertarikannya, siswi yang akrab disapa Hani ini menjelaskan, semakin jarang menemukan perwira kapal perempuan. Untuk pelayaran di Sulut bahkan dirinya belum pernah bertemu langsung.

“Pernah lihat perwira kapal perempuan, tapi itu di kapal Makassar menuju Surabaya. Kalau kapal di Sulut mungkin ada tapi saya belum pernah lihat. Semoga kedepan lebih banyak lagi perempuan yang tertarik jadi perwira kapal dan semoga pelayaran Sulut makin jaya,” tutupnya. (Ilona piri)