Beratnya Perjuangan Perawat di Ruang Isolasi RSU Bethesda Tomohon Hadapi Pandemi Covid-19

oleh -
Dua perawat yang bertugas menunjukkan pesan bermakna dari balik bilik ruang isolasi untuk semangat dalam merawat pasien. (FOTO: Wailan Montong)

Laporan : WAILAN MONTONG (Kota Tomohon)

SUMPAH profesi menjadi salah satu energi dan pelecut semangat para perawat di RSU Bethesda Tomohon, dalam menangani pasien terkait Covid-19 di ruang isolasi.

Perjuangan yang berat harus dilewati dengan tetap bertahan dan semangat. Setiap hari harus menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap level tiga yang tampak layaknya seorang astronot hendak ke bulan, dengan pakaian berlapis dan tertutup rapat. Belum lagi di luar tugas sebagai tenaga kesehatan, harus memikirkan keadaan rumah, mengurus anak dan menjaga dapur agar tetap berasap.

Selain itu, situasi harus menanggung beban pakaian yang jauh dari kata nyaman, mereka harus tetap tulus melayani dan merawat pasien baik yang terkonfirmasi positif maupun mereka yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP).

Belum lagi, di Sulawesi Utara sudah begitu banyak tenaga kesehatan yang akhirnya harus menjadi korban dari keganasan Covid-19 atau akrab di telinga masyarakat dengan sebutan virus korona.

KORAN SINDO MANADO/SINDOMANADO.COM berkesempatan mengunjungi RSU Bethesda Tomohon  mewawancarai perawat yang bertugas di ruang isolasi, Sabtu (23/5/2020).

Para pejuang Covid-19 ini bukan hanya menjaga kesehatan fisik, melainkan juga mental. Berinteraksi dengan pasien terkait Covid-19 menjadi hal mengharukan bagi para tenaga medis. “Sudah sekira dua bulan kami ditugaskan untuk merawat setiap pasien yang masuk ruang isolasi. Di awal ada rasa takut, jangan sampai kami yang menjadi pembawa virus ini di rumah. Kami harus benar-benar menjalankan protokol penggunaan APD, hingga menjaga kebersihan dan kondisi tubuh. Syukur sampai saat ini kami masih bisa bertugas dengan baik,” terang Verren, salah satu perawat yang bertugas di ruang Isolasi Lantai II RSU Bethesda Tomohon.

Secara teori, mereka sadar, dengan menggunakan APD lengkap meminimalisasi diri terpapar, meski demikian tidak sedikit juga stigma yang dialamatkan ke para tenaga medis. “Kalau soal stigma, jangankan masyarakat yang berada di luar rumah sakit, sesama perawat saja yang tahu kami tugas di ruang isolasi masih ada beberapa yang secara halus meminta kami untuk tidak terlalu mendekat,” lanjut wanita berusia 21 tahun ini.

Kisah pilu pengorbanan telah diwujudkan guna menjalankan tanggung jawab profesi. Bahkan salah satu perawat menceritakan dimana harus rela tidak bersama putri semata wayangnya di hari spesial. “Kalau pengalaman pribadi, pernah saat perayaan HUT ke-17 putri saya beberapa waktu lalu. Sedih sebenarnya karena tidak bisa ikut dalam ibadah keluarga bahkan saat jam 12 malam juga tidak bisa memberikan ucapan selamat karena harus menunaikan tugas di ruang isolasi,” jelas Melani Mampow, selaku Kepala Ruangan Isolasi lantai II ini.

Namun di sisi lain, perawat yang sudah menjalani profesi sekira 20 tahun ini mengaku bersyukur karena saat berada di rumah sering diperlakukan bak ratu. “Keluarga sangat mendukung. Selain terus memberikan penguatan, hal yang paling berkesan juga dimana saat pulang ke rumah langsung dilayani mulai dengan air hangat untuk mandi, hingga disiapkan makanan dan minuman untuk menjaga daya tahan tubuh. Ini menjadi salah satu bentuk penyemangat saya dalam bertugas,” lanjut wanita 39 tahun ini, sembari mengalihkan perhatian agar terhindar dari tetesan air mata haru.

Salah satu bentuk kebersamaan dalam merawat pasien membuat sesama perawat di ruang isolasi saling menguatkan satu sama lain. “Banyak cara kami lakukan bersama mulai dari ibadah, saling sharing, bahkan bermain tiktok menjadi modal untuk mengobati kejenuhan dalam bertugas. Modal kami hanya dengan meyakini merawat pasien layaknya melayani Tuhan dengan cara kami,” lanjut perawat yang tinggal di salah satu kelurahan di Tomohon Selatan ini.

Ketika ditanya terkait segala bentuk keperluan, mereka mengakui selalu mendapat perhatian dari manajemen. “Apa yang kami minta mulai dari fasilitas hingga makanan selalu dituruti. Jujur kami berharap adanya dukungan masyarakat sebagai langkah upaya bersama memerangi virus ini sekaligus menghargai usaha dan pengorbanan kami, bisa dimulai dengan hal paling dekat, gunakan masker, rajin cuci tangan dan hindari kerumunan dan tolong hargai ,” harapnya.

Sementara itu, pihak RSU Bethesda melalui Direktur dr Ramon Amiman menegaskan pihaknya terus berupaya memberikan pelayanan yang terbaik. “Selain membentengi para tenaga medis dengan APD dan fasilitas, tentunya direksi berupaya memenuhi kebutuhan mereka dan pasien hingga dengan kebutuhan spiritual, dimana kami menyiapkan sarana agar pasien dan tenaga medis maupun non medis terus mendapat siraman rohani yang telah menjadi rutinitas rumah sakit,” jelas Amiman.

Sebagai sesama tenaga medis yang saat ini bertugas menjadi garda terdepan menghadapi Covid-19, dirinya berharap semangat menggebu-gebu memutus matai rantai penyebaran virus ini juga dapat direspon dengan baik oleh masyarakat. “Masyarakat harus sadar wabah ini dialami seluruh dunia, jangan lagi ada rasa acuh tak acuh. Ikuti anjuran yang ada dan sebisa mungkin menyesuaikan dengan situasi sekarang. Sudah harus bisa beradaptasi dengan satu fase kehidupan baru dengan lebih meningkatkan pola hidup bersih dan sehat. Dan bagi rekan sejawat tenaga medis  untuk tetap terus semangat dalam bertugas, ikuti protokol tetap yang ada dan sebisa mungkin menjaga kondisi tubuh dan psikis tetap sehat dan kuat,” harapnya. (*)