Terduga Penyebar Video Provokasi RSPK Manado Diamankan, Terancam Hukuman di Atas Lima Tahun Penjara

oleh -
Kapolda Irjen Pol Royke Lumowa. (FOTO: Istimewa)

MANADO– Kasus pengambilan paksa jenazah pasien Covid-19 di Rumah Sakit Pancaran Kasih (RSPK) Manado pada 1 Juni 2020, hingga kini masih terus bergulir secara hukum. Perkembangan terbaru, Timsus Maleo Polda Sulut telah mengamankan warga berinisial ML, pelaku sekaligus pemilik akun yang diduga penyebar video ujaran kebencian dan provokasi saat terjadi kericuhan dan insiden di RSPK.

Katimsus Maleo Kompol Prevly Tampanguma mengatakan, ML alias Lamato telah diamankan dan diserahkan ke Subdit Cyber Polda Sulut lengkap dengan barang bukti telepon genggam yang digunakan saat merekam di tempat kejadian.

Pevly menjelaskan, Lamato ditangkap di kediamannya tanpa melakukan perlawanan, sehingga situasi tetap aman dan kondusif.

“Kini terduga penyebar video dan yang live terkait kejadian di RSPK sudah diserahkan ke Subdit Cyber Crime Polda Sulut, untuk penyelidikan lebih lanjut,” terangnya, Senin (8/6/2020). Lanjut perwira satu melati tersebut, terduga pelaku terancam melanggar Tindak Pidana dalam Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronuk (UU ITE), sebagaimana diatur dalam UU Nomor 16 tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE, dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara.

Terpisah, Kapolda Sulut Irjen Pol Royke Lumowa meminta masyarakat untuk menggunakan media sosial (medsos) dengan hal yang positif di tengah pandemi korona.

“Jangan digunakan untuk hal-hal yang bersifat provokatif dan melanggar UU ITE. Saatnya kita bersama-sama memerangi virus Corona Covid 19. Jangan sebaliknya,” pinta Lumowa. Menurut dia, ada banyak informasi positif yang dapat disebarkan masyarakat. Seperti bagaimana mencegah penularan Covid-19, cara membuat hand sanitizer home industri di bawah bimbingan dinas kesehatan, tips menjaga stamina, hingga testimoni masyarakat yang sembuh dari virus corona.

“Jangan digunakan untuk bikin hoaks yang membuat masyarakat menjadi bingung dan resah,” imbaunya. Kapolda mengatakan, kondisi saat ini memerlukan kerja sama semua pihak untuk saling bantu menangani pandemi korona. Polri akan menindak tegas setiap pihak yang malah menambah masalah lewat tindakan negatif di medsos.

“Membuat berita sesat yang bikin keonaran dan menyesatkan masyarakat dan meresahkan masyarakat, sebaiknya ditinggalkan dan jangan dilakukan lagi. Undang-Undang tentang penggunaan medsos dan media lain semua sudah diatur mana yang boleh dan yang tidak boleh. Semua sudah jelas dan UU harus ditegakkan,” tandas Lumowa. (Deidy Wuisan)