Waduh! Ini Ternyata Penyebab Elpiji 3 Kg di Bolmong Selatan Alami Kelangkaan

oleh -
Penyaluran Elpiji 3 kg. (FOTO: Istimewa)

BOLSEL- Kelangkaan tabung Liquified Petroleum Gas (LPG/elpiji) 3 kilogram (Kg) di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) masih terjadi dan terus menuai keluhan masyarakat.

Tabung gas melon yang oleh pemerintah disubsudi khusus bagi masyarakat miskin ini, dalam belakangan kian sulit didapati oleh masyarakat, padahal dari distribusinya sendiri berjalan normal.

Ada dugaan jika Elpiji 3 kg ini tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat miskin, namun banyak diantara masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke atas. Hal ini pun tak dibantah oleh Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop-UKM) Bolsel, Alsyafri Kadullah saat diwawancarai, Kamis (9/7/2020). Menurut dia, jika melihat jumlah pasokan Elpiji 3 Kg di Kabupaten Bolsel, seharusnya mencukupi untuk kenutuhan masyarakat yang berhak atas elpiji bersubsidi tersebut. Namun, yang terjadi saat ini, bukan hanya masyarakat miskin yang menggunakannya, namun masyarakat dengan ekonomi berkecukupan.

“Itu lah kondisi yang hari ini terjadi. Elpiji 3 kg yang harusnya untuk masyarakat miskin tapi kenyataannya yang menggunakan juga mereka yang tergolong orang-orang mampu,” ungkap Alsyafri.

Dikatakannya lagi, padahal pemerintah telah menyediakan elpiji khusus untuk masyarakat yang berkecukupan, yakni tabung Elpiji 5 kg dan beberapa jenis lainnya yang nonsubsidi.

“Mungkin dari sisi harga yang murah dan ekonomis dalam penggunaannya, sehingga masih banyak diantara orang yang berkecukupan masih menggunakan tabung gas 3 kilogram ini,” terangnya.

Dia mencontohkan, jika mengunakan Elpiji 3 kg dengan harga subsidi yakni Rp 20.000 per tabung. Tapi jika mengunakan yang nonsubsidi Elpiji 5 kg, mereka harus mengeluarkan uang sebesar Rp80.000 bahkan sampai Rp90.000.

Pihaknya pun sudah melakukan serangkaian upaya agar masyarakat yang tidak layak mengunakan elpiji subsidi untuk segera beralih ke nonsubsidi. “Untuk seluruh ASN di lingkungan Pemkab Bolsel sendiri sudah melakukan gerakan penggunaan elpiji nonsubsidi sejak 2019 lalu. Langkah ini adalah bagian dari memberi pemahaman kepada masyarakat yang ekonomi berkecukupan untuk beralih ke elpiji nonsubsidi, agar ketersediaan elpiji bersubsidi bisa dinikmati oleh mereka yang berhak,” ujarnya.

Kadullah pun mengaku, jika dalam sepekan diatribusi Elpiji 5 kg di Kabupaten Bolsel hanya 500 tabung. Artinya, dari sisi konsumsi memang masih sangat sedikit penggunanya.

“Ini jadi salah satu indikator kami, jika pengguna elpiji subsidi masih turut dinikmati oleh masyarakat yang taraf ekonominya menengah ke atas,” ungkapnya sembari menambahkan jika pihaknya berharap masyarakat yang tergolong ekonomi mampu untuk bisa beralih ke elpiji nonsubsidi. (Irfani Alhabsyi)