OTG di Sulut Kurang Pengawasan, Dinilai Menjadi Biang Penyebaran Virus Korona hingga ke Desa-Desa

oleh -
(Ilustrasi: Istimewa)

MANADO— Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Indonesia maupun Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) masih terus berlangsung. Setiap harinya Sulut masih ketambahan kasus positif Covid-19. Banyak dari mereka yang tak bergejala ataupun memiliki gejala yang minim, sehingga dikategorikan sebagai orang tanpa gejala (OTG).

Kepada para OTG ini hanya dilakukan isolasi mandiri saja apabila lokasi tempat tinggalnya memungkinkan, namun mereka pun bisa menempati rumah singgah atau rumah sakid darurat Covid-19 yang dicetuskan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut. Akan tetapi, dari sekian banyak yang memilih melakukan isolasi mandiri di tempat tinggalnya, banyak yang tak taat dan ketat menjalankan isolasi mandiri dan kurangnya pengawasan dari gugus tugas maupun pihak-pihak terkait lainnya. Hal inilah yang dinilai menjadi biang penyebaran virus korona bahkan hingga ke desa-desa yang ada di Sulut.

Contoh kasus terjadi di Minahasa. Sejumlah warga di salah satu desa yang dinyatakan terkonfirmasi Covid-19, nyatanya tidak diawasi. Padahal, kondisi tempat tinggal tidak layak untuk melakukan isolasi mandiri karena padat penduduk. “Dinyatakan terkonfirmasi korona tapi tidak diawasi oleh satgas atau puskesmas. Tidak pernah dikunjungi juga. Jadi ya mereka bebas keluar rumah. Aturan yang ada tidak tersosialisasi betul di masyarakat. Tak heran kasus positif terus bertambah,” ujar warga yang enggan namanya dipublikasi. Menurut sumber, OTG yang kurang diawasi dan terkesan dibiarkan, menjadi biang penyebaran virus korona, bukan hanya di kota-kota, tapi juga telah sampai di desa-desa.

Hal ini pun membuat keresahan di tengah masyarakat. Untuk itu, Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19 Sulut, dr Steaven Dandel mengatakan bahwa sebenarnya ada Satgas hingga level terendah yang bertugas untuk mengingatkan mereka yang isolasi mandiri di rumah, untuk taat melaksanakannya.

“Iya, ada Satgas sampai level kelurahan dan desa. Sebenarnya mereka (Satgas kelurahan dan desa) yang bertugas untuk mengingatkan (Orang yang isolasi mandiri) untuk isolasi ketat,” ujar Dandel kepada wartawan KORAN SINDO MANADO saat dihubungi, Selasa (15/9/2020).

Lanjut dikatakan Dandel, selain untuk mengingatkan agar mereka melakukan isolasi yang ketat, Satgas yang ada di kelurahan dan desa ini memiliki fungsi lainnya, terutama untuk memastikan protokol kesehatan telah dijalankan secara baik di tengah masyarakat yang menjadi wilayah tugasnya.

“Terutama untuk memastikan protokol kesehatan dilaksanakan dengan disiplin oleh masyarakat,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Sulut itu seraya menambahan bahwa data terkait total kasus Covid-19 yang di isolasi mandiri di rumah berada di dinas kesehatan kabupaten/kota.

Sementara itu, Aktivis Kesehatan Masyarakat, Taufik Pasiak melihat bahwa ada tiga hal yang harus diperhatikan terkait permasalahan ini, yaitu pertama ialah harus lebih banyak dilakukannya edukasi kepada masyarakat. “Edukasi yang jelas, masif dan fokus,” tukasnya kepada wartawan Koran ini lewat aplikasi pengirim pesan, WhatsApp.

Koordinator Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial LPPM Unsrat Manado mengungkapkan bahwa hal kedua yang perlu dilakukan ialah melibatkan para tokoh, baik itu tokoh masyarakat, maupun tokoh agama yang ada. “Terutama dalam aktivitas sehari-hari. Sampaikan dalam forum-forum (Seperti ibadah dan pertemuan lainnya),” tegasnya.

Lalu yang ketiga, kata Pasiak, ialah peran dari aparat pemerinta yang ada, baik itu dari kepala daerah seperti Gubernur-Wakil Gubernur, Wali Kota-Wakil Wali Kota, Bupati-Wakil Bupat, hingga ke kepala lingkungan (pala) maupun kepala desa yang ada. “Aparat pemerintah harus memberi contoh,” tuturnya.

Di sisi lain, menurut Ilmuwan Psikologi, Preysi Siby, dari sisi bidang keilmuannya, perubahan memang membuat segala sesuatu menjadi tidak seperti biasanya, seperti saat ini ketika pandemi virus korona masih melanda, membuat kita tidak seperti biasanya dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

“Dalam konteks Covid ini, kalau sudah merasa badannya tidak sehat atau hasil rapid testnya reaktif, silahkan mengkarantina secara mandiri. Itu membuat masyarakat harus berpikir step by step apa yang harus dilakukan, ini sempat saya terima laporan dan konselingnya secara online mengenai hal ini,” ucapnya.

Preysi pun memberikan nasihat kepada orang tersebut agar melaksanakan mengetahui secara pasti apakah isolasi mandiri di rumah masih bisa bertemu dengan keluarga seperti suami, istri, atau anak? Apakah benar-benar di dalam kamarnya hanya sendiri saja? Ia melihat bahwa hal-hal seperti yang belum banyak diketahui oleh masyarakat.

“Harus ada edukasi yang detail. Memang edukasi itu kita bisa dapatkan dimana-mana seperti media sosial, vlog-vlog, tetapi apakah informasi itu adalah informasi yang tepat dan benar? Ini yang perlu disaring kembali, bahwa informasi yang harus dicari adalah informasi yang tepat dan benar sesuai dengan apa yang dibutukan masyarakat, bukan apa yang menyenangkan hati masyarakat,” jelas Preysi.

Pencarian akan informasi yang menyenangkan hati masyarakat ketimbang yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, saat ini lebih banyak diharapkan oleh masyarakat. Memang dikatakannya, semua orang menginginkan informasi seperti kasus yang sudah menurun, dan tingak kematian yang semakin menurun. Namun, jangan sampai yang kita harapkan adalah informasi yang baik, tetapi pada kenyataannya diri sendiri pun tak paham akan informasi yang ada. “Tetap memakai masker betul, akan tetapi ada koma disitu, yakni memakai masker lalu menjaga jarak. Apakah hal itu dilakukan saat kita lebih dari 10 orang, 20 orang di satu lokasi yang sama ?. lalu apakah di lokasi tersebut disiapkan dan diwajibkan untuk mencuci tangan pakai sabun,” sebutnya.

Jadi pemahaman yang tepat dan komplit penting bagi masyarakat saat ini, sebut Preysi, tanpa harus ditakut-takuti, seperti halnya perkataan ‘hati-hati jangan sampai kamu reaktif’ dan sebagainya, itu tidak ada edukasi di dalamnya. “Orang-orang hanya dibawa diranah takut. Yang penting adalah edukasi. Jangan hanya bilang jangan, tidak boleh, tetapi harus ada alasan yang tepat dan jelas,” imbuhnya. Oleh karenanya, informasi yang disampaikan kepada masyarakat harus benar-benar jelas, mudah dipahami, dan paripurna, agar masyarakat benar-benar paham bahwa saat ini kita belum selesai dari virus yang awalnya ditemukan di Wuhan, China pada Desember 2019 lalu ini. “Virus masih tetap ada, harus tetap wapada, jika kita menyayangi keluarga dan teman-teman di lingkungan kita, terutama para lanjut usia (Lansia). Secara psikologi ada yang namanya kesadaran moral, di dalamnya terdapat sekira tujuh hal yang harus dipahami oleh masyarakat atau individu secara tertentu,” tegasnya.

Tujuh hal yang dimaksudkannya ialah mengembangkan sikap empati, menumbuhkan hati nurani, menumbuhkan pengendalian diri, mengembagkan sikap menghormati orang lain, memelihara kebaikan, mengembangkan sikap toleransi, serta mengembangkan keadilan. “Tujuh hal menurut Michele Borba ini yang harus kita kembangkan dimasa pandemi ini, terlebih saat melakukan karantina mandiri (isolasi mandiri),” kuncinya. (Fernando Rumetor)