Cerita Alumnus Unklab, Jabat Presiden Direktur Metland, Thomas J. Angfendy Sempat Lewati Masa Sulit

oleh
Thomas J. Angfendy. (FOTO: Istimewa)

Thomas J Angfendy, akrab disapa Thomas, menjadi contoh nyata bahwa kegigihan dan kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Lulusan Universitas Klabat (Unklab) tersebut kini tengah menjabat sebagai Presiden Direktur PT Metropolitan Land Tbk (Metland). Metland sendiri merupakan sebuah perusahaan terbuka yang bergerak di bidang properti dan berfokus pada pengembangan perumahan dan bangunan komersial.

Menjabat posisi seperti itu dianggap banyak orang sebagai salah satu bentuk kesuksesan, namun Thomas sendiri tak merasa bahwa dirinya sudah sukses. “Orang sukses itu kalau dia sudah bahagia. Nah saya, apakah saya sudah bahagia? Bahagia itu relatif. Saya merasa sukses kalau hidup ini bahagia,” ujarnya saat berbincang dengan KORAN SINDO MANADO/SINDOMANADO.COM, Senin (2/11/2020).

Dikatakannya, mencapai posisi sebagai Presiden Direktur ini bukanlah hal mudah. Dia pernah melewati masa sulit. Banyak rintangan dan halangan yang dilalui Thomas yang awalnya mengawali karier dari sebuah pabrik minyak kelapa yang kini lokasinya telah menjadi Pasar Segar di Paal Dua. Dia pun membagikan kiat-kiat bagaimana mencapai kesuksesan dari pengalaman yang didapatkan selama berkarier di Manado dan Jakarta.

“Prinsipnya adalah integritas dan kerja keras. Kalau kamu punya integritas dan kerja keras yang didahului dari semangat yang besar, harusnya bisa sukses. Karena semangat itu merupakan awal. Saat sudah memiliki keduanya, seseorang harus bekerja dan akhirnya bisa profesional. Profesional seiring berjalannya waktu itu bisa tercapai,” ungkap Thomas, yang saat ini menikah dan memiliki dua orang anak. Pria kelahiran 16 Mei 1960 ini menyebut, selain hal-hal itu, yang tak boleh dilupakan ialah sikap pantang menyerah. “Kalau gagal itu biasa. Tapi yang penting kalau gagal dan jatuh, harus berdiri dan melangkah lagi. Ada kadang-kadang orang sudah jatuh, dia tidak mau berdiri dan melangkah maju,” sebutnya.

Ketika telah mendapatkan semua itu, bebernya, kemampuan yang harus dikembangkan ialah enterpreneurship atau kewiraswastaan. “Enterpreneurship itu bisa di luar perusahaan, bisa di dalam perusahaan. Kalau di dalam perusahaan, saya menganggap perusahaan ini milik saya sendiri. Dengan begitu saya akan full time dan bersama tim memajukan perusahaan ini,” tukasnya.

Nah, dalam membangun dan mensukseskan perusahaan, ada beberapa hal yang mesti menjadi perhatian. Yang paling penting, ungkap Thomas, adalah membangun sistem yang tepat. Sistem ini terdiri dari 5C, yakni Communication, Cooperation, Collaboration, Commitment serta Control.

“Kalau ada communication atau komunikasi, berarti diantara orang itu ada trust atau saling percaya. Kalau sudah mulai saling percaya, di situ akan ada cooperation atau kerja sama serta collaboration atau kolaborasi, karena ada kepercayaan di situ,” imbuh mantan Direktur Operasional Metropolitan Land tersebut.

“Dalam satu perusahaan ketika ada meeting, diskusi, dan kolaborasi, nanti kan ada hasilnya. Hasil itu adalah commitment atau komitmen. Komitmen itu ketika dijalankan harus dilihat apa yang kurang dari komitmen itu, dari hasil ini, baru kita perbaiki-perbaiki,” tutur Presiden Direktur Metropolitan Land sejak tahun 2016 itu.

Kalau keempat C itu sudah berjalan dengan baik dalam perusahaan, maka Control atau kontrol adalah hal yang paling utama. “Kadang-kadang dalam perusahaan di Indonesia itu kontrolnya kurang, sehingga banyak penyimpangan-penyimpangan. Jadi manajemen yang baik, untuk menjalankan day to day operation itu harus ada 5C ini,” jelasnya.

Thomas sendiri merupakan lulusan Universitas Klabat (Unklab) pada Jurusan Akuntansi 1983.  Dia mengenang kala itu, dia mengenal Unklab dari salah seorang sahabat dekat yang saat ini juga adalah dosen di Unklab, Stanley S Nangoy. Saat diajak berkunjung ke Unklab, dia merasakan lingkungan yang tenang dan tepat untuk belajar. Saat mulai belajar, dia merasakan bahwa banyak nilai baik yang bisa dipelajari sejak dini di universitas swasta tersebut, terutama integritas. Pun, di Unklab dia belajar bagaimana menjadi disiplin dan mandiri.

“Saya kebetulan tinggal di asrama. Semua sudah  teratur seperti mulai dari bangun pagi, sampai tidur malam. Menu makanan pun teratur dan sehat. Saya rasa pengalaman secara akademik dan pengembangan pribadi sangat bermanfaat. Jadi integritas dan disiplin itu yang saya rasa diajarkan kepada kita,” kenang Thomas seraya mengenang salah satu dosen kala itu, Lies Pesulima yang akrab disebut Mam Pesulima, merupakan dosen favoritnya selama di Unklab. (Fernando Rumetor)