Jadikan Kopi Sulut Komoditas Primadona Ekspor Melalui Event Urban Coffee Festival

oleh -
Kepala KPw BI Sulut Arbonas Hutabarat saat menyeduh kopi di Urban Coffee Festival. (FOTO: Clay lalamentik)

MANADO – Urban Coffee Festival adalah salah satu wadah Bank Indonesia  (BI) menggelorakan aroma kopi nusantara untuk menumbuhkan minat pecinta kopi untuk bangga dengan kopi Indonesia, yang tentunya berpotensi menghasilkan income yang bagus bagi petani kopi dan indsutri. Dimulai hari Jumat, 19 November – 21 November 2020 di Novotel, Manado. Melalui acara ini, BI ingin berpartisipasi meningkatkan komoditi ekspor kopi di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Indonesia merupakan negara terbesar keempat dalam mengekspor kopi di dunia. Kekayaan kopi inilah yang menyebar di sejumlah besar daerah di Indonesia, termasuk di Sulut. Walaupun, Sulut bukanlah pemain besar dalam bisnis kopi ini. Namun, Sulut memiliki warisan budaya kopi yang telah ada selama puluhan hingga ratusan tahun lalu. Berdasar data International Coffee Organization (ICO), selang Tahun Kopi Oktober 2019 hingga September 2020, Indonesia mengekspor 6.796 karung. Satu karung beratnya 60 kg, angka itu masih kalah dari jumlah yang diekspor Brasil, Vietnam dan Kolombia.

Bank Indonesia (BI) Sulut pun ambil bagian dalam kampanye kopi ini. BI Sulut menghelat Urban Coffee Festival. Kepala Kpw BI Sulut Arbonas Hutabarat mengatakan, Sulut punya harapan mengembalikan warisan itu, karena kopi Sulut pernah Berjaya. ”Paling tidak, jika belum diekspor minimal dijual ke luar daerah dulu,  melalui acara ini diharap kolaborasi adalah kunci menuju kejayaan kopi Sulut. Karena itu, BI mempertemukan para pelaku di dunia kopi. Mulai dari petani, pedagang, roaster, barista dan pemilik cafe kopi. Kita pertemukan semua di festival ini sehingga bisa saling berbagi, cerita bagaimana sama-sama bisa maju,”ucapnya, belum lama ini.

BI mau menjadikan budaya kopi di Sulut layaknya di luar negeri. Tren minum kopi berubah ekstrem dinikmati layaknya teh, kapan saja tanpa mengenal waktu. Dengan tren berkembang ini, permintaan kopi berkualitas naik, namun  harus dibarengi dengan produksi kopi berkualitas yang banyak juga.

Deputi Kpw BI Sulut Eko Irianto juga menuturkan, Urban Coffee Festival diadakan guna membangkitkan lagi kopi Sulut untuk menjadi komoditas primadona ekspor. “Festival ini dilakukan BI mengingat strategi kunci memajukan komoditi kopi yakni dengan kolaborasi dan sinergi pelaku industri kopi seperti petani, roaster, dan barista. Apalagi dalam beberapa waktu terakhir ini, masyarakat Sulut menjadikan kopi sebagai gaya hidup,”ucapnya.

Banyak masyarakat, kata Eko, yang minum kopi premium seperti arabika, tapi sayangnya volumenya masih sedikit. Hal yang begini hendak didorong bersama dalam festival ini. “Tren kekinian ini yang perlu diantisipasi semua pihak termasuk BI Sulut, bisnis kopi ialah bisnis urban, yang menjadi bisnis masa depan Sulut,”jelasnya. Tambah Eko, pihaknya telah mendatangi 11 wilayah kopi di Sulut. “Kopi dari lima wilayah berbeda ini nantinya dihadirkan dan dikurasi dalam festival ini,”ungkapnya.

Selain pelatihan, ada agenda menarik lainnya seperti workshop, open service, talkshow sejarah kopi Sulut. Bahkan pada pekan depan BI Sulut akan mendatangkan pelaku bisnis kopi yang cukup terkenal di Indonesia. Adapun, peserta yang mengikuti kompetisi ini sejumlah 32 orang dari seluruh Sulut dan dibagi menjadi 8 kloter per babak. Dalam kompetisi ini para peserta yang merupakan barista dituntut meracik kopi khas Sulut. Salah satu peserta yang berasal dari Bitung, Fachrul Islam mengaku senang bisa mendapatkan kesempatan mengikuti kompetisi ini. “Beruntungnya sebelum kompetisi kami diberi pelatihan dulu untuk mengenal kopi mulai dari biji hingga alat-alatnya. Jadi menambah pengetahuan,”ungkapnya.

BI berharap, dengan meningkatnya kualitas dan pengetahuan barista, makin baiknya manajemen cafe yang disertai apresiasi konsumen terhadap kopi berkualitas, akan mendorong permintaan kopi terbaik dari petani Sulut. Urban Coffee Festival ini sejatinya merupakan Urban Economy Festival seri kedua yang edisi perdana digelar tahun lalu. Namun, dengan adanya pandemi, BI Sulut membatasi peserta kegiatan maksimal 100 orang per kelas atau pelatihan dalam rangka protokol Covid-19. Pendaftaran peserta digelar online beberapa hari sebelum kegiatan. (Clay Lalamentik)