Kasus Covid-19 Sulut Naik Signifikan, Keterisian ICU RSUP Prof Kandou Capai 90%

oleh -
Potret penanganan pasien korona. (FOTO: Istimewa)

MANADO— Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19 Sulut, dr Steaven Dandel menyampaikan bahwa tindakan antisipasi adanya penyebaran virus korona lewat kegiatan keagamaan, bukan baru pertama kali dilaksanakan di Bumi Nyiur Melambai.

“Pada Mei 2020 ketika Umat Islam akan merayakan Idul Fitri, Satgas Covid-19 Sulut juga membuat pengaturan tentang pembatasan pelaksanaan Sholat Ied berjemaah. Hal itu terjadi karena pada bulan bulan tersebut, signal epidemiologis mengindikasikan adanya peningkatan kasus yang sangat signifikan,” bebernya.

“Dan oleh karenanya perlu adanya pembatasan kegiatan yang berpotensi meningkatkan transmisi kasus ini. Fenomena yang sama terjadi juga pada bulan November ini, dimana selama 3 minggu terakhir akselerasi penambahan kasus terjadi dengan signifkan,” sebut Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkesda Sulut itu.

Di sisi lain, kata Dandel, pada minggu terakhir di November ini, angka keterisian ruangan perawatan intensif (ICU) untuk Covid-19 juga meningkat secara tajam. Khusus untuk RSUP Prof Kandou angkanya mencapai 90%. Sementara untuk ruang isolasi angka keterisiannya berada diangka 36,18%.

“Kedua kondisi inilah yang mendorong Satgas Covid-19 Sulut untuk mengambil kebijakan tersebut di atas dan mengimbau para pemimpin gereja agar dapat menata pelaksanaan perayaan natal agar tidak menjadi kegiatan yang rawan terjadi penyebaran Covid 19, lewat kegiatan ibadah live streaming,” tukas Dandel. “Apabila tidak dilakukan antisipasi secara dini, maka dikhawatirkan peningkatan jumlah kasus akan sangat membebani sistem kesehatan yang ada dan berpotensi katastropik, karena akan melumpuhkan juga pelayanan kesehatan bagi penyakit lainnya,” imbuhnya. (Fernando Rumetor)