Dinkes Sulut Simulasi Vaksinasi Covid-19 di RS Lapangan Darurat Kitawaya

oleh -
Tampak petugas melakukan simulasi penyuntikan vaksin Covid-19. Simulasi Dinkesda Sulut digelar di RS Lapangan Darurat Covid-19 Kitawaya pada Rabu (13/1/2021) kemarin. (Foto: Fernando Rumetor)

MANADO- Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Sulawesi Utara (Sulut) menggelar simulasi pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Rumah Sakit (RS) Lapangan Darurat Covid-19 Kitawaya pada Rabu (13/1/2021). Simulasi dilakukan beberapa jam setelah Presiden Joko Widodo mendapatkan suntikan vaksin di Istana Presiden, Jakarta.

Sekretaris Dinkesda Sulut, dr Rima Lolong bersama Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr Steaven Dandel yang juga Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19 terlihat memantau langsung pelaksanaan simulasi tersebut.

Dikatakan Dandel, tujuan kegiatan simulasi ialah untuk memperbaharui kembali ingatan para vaksinator atau tenaga kesehatan yang akan melakukan vaksinasi. Sebab dalam masa pandemi ini, pelatihan para vaksinator dilakukan secara daring melalui sambungan konferensi video.

“Pelatihan daring kan tidak seperti biasanya yang dilaksanakan di dalam ruangan kemudian diberikan praktek. Karena metodenya daring, maka kita perlu meyakinkan betul bahwa ilmu, skill dan keterampilan yang didapat dari pelatihan daring itu sudah dipahami dengan baik atau tidak, sehingga perlu ada simulasi,” pungkasnya.

Dalam simulasi ini, kata Dandel, para petugas dapat mengetahui hal-hal mana saja yang masih kurang, sehingga pada saat pelaksanaan nanti, dapat lebih baik lagi. “Jadi tujuan utamanya mewujudkan apa yang sudah mereka latih kemudian dipraktekkan,” tukasnya.

Dari pantauan wartawan SINDOMANADO.COM, pelaksanaan simulasi memang sesuai apa yang akan dilakukan pada vaksinasi nantinya. Dimana terdapat empat meja yang harus dilalui oleh mereka yang akan divaksin. Meja pertama adalah meja pendaftaran, kemudian meja kedua adalah meja pemeriksaan kesehatan.

Pada meja kedua tersebut, akan dilakukan pemeriksaan kesehatan dasar, termasuk diperiksa tekanan darahnya, juga ditanyakan 16 pertanyaan terkait kondisi kesehatannya. Apabila ada kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk divaksin, maka mereka akan ditunda dahulu proses vaksinasinya.

Setelah itu di meja ketiga, barulah proses penyuntikan vaksin Covid-19 dilakukan. Usai disuntik vaksin, mereka kemudian diarahkan ke meja keempat untuk mendapatkan kartu tanda telah dilakukan vaksinasi, serta diberikan informasi terkait pemberian suntikan dosis kedua.

Sekadar diketahui, vaksin Covid-19 sendiri diberikan dalam dua dosis. Dosis pertama kemudian dosis kedua diberikan 14 hari setelah suntikan pertama. Adapun setelah melalui meja keempat, mereka akan diarahkan untuk menunggu di tempat yang sudah disediakan selama kurang lebih 30 menit.

“Diobservasi. Bila terjadi reaksi alergi, mereka masih berada di fasilitas kesehatan, sehingga tindakan resusitasi bisa dilaksanakan. Tetapi (adanya reaksi alergi) itu persentasenya sangat kecil. Jadi setelah selesai 30 menit, dan tidak ada reaksi, maka mereka diperbolehkan keluar dari tempat vaksinasi,” jelas Dandel.

Untuk tempat pelaksanaan vaksinasi sendiri dilakukan di Puskesmas, Rumah Sakit, hingga Klinik-klinik yang ada. Dirinci Dandel, terdapat 195 Puskesmas yang sudah dilatih untuk kegiatan vaksinasi, kemudian terdapat 39 RS, dan kurang lebih 10 klinik swasta yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

“Disamping juga kita latih petugas di Kabupaten/Kota. Jadi yang pengampu-pengampu itu kita latih. Sehingga total kurang lebih 250-an Fasilitas Kesehatan yang menjadi Point of Delivery (tempat penyaluran, red) vaksin Covid-19,” kunci Dandel. (Fernando Rumetor)