Jaga Imun! Cuaca Ekstrem Rentan Terjangkit Covid-19 

oleh -
(FOTO: Istimewa)

MANADO – Di tengah pandemi Covid-19, masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) dihadapkan dengan cuaca ekstrem yang masih terus melanda. Salah satu yang patut diwaspadai adalah penyebaran penyakit, terutama virus korona.
Pasalnya, cuaca ekstrem di tengah pandemi ini juga dapat membuat masyarakat lebih rentan akan terkena Covid-19 atau yang akrab disebut virus korona. Masyarakat Bumi Nyiur Melambai pun dituntut harus lebih memperhatikan pola hidup dan kebersihan diri dan menjaga imun tubuh.
“Kemungkinan besar iya ($di saat cuaca ekstrem saat ini, Covid-19 mudah menjangkiti orang). Karena di musim pancaroba seperti ini, daya tahan tubuh seseorang sangat terpengaruh,” ujar Juru Bicara (Jubir) Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulut, dr Steaven Dandel, kemarin.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkesda Sulut itu pun meminta agar masyarakat lebih memperhatikan lagi kesehatannya, sebab apabila daya tahan tubuh menurun dan imunitas menurun, maka sangat mudah untuk terjangkit berbagai macam penyakit, bukan hanya Covid-19 saja.
Dandel pun meminta kepada masyarakat apabila telah merasakan gejala penyakit seperti demam dan batuk agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. “Segera berobat untuk ditegakkan diagnosisnya. Jangan menjadi dokter untuk diri sendiri. Jangan duga-duga karena nanti kecolongan,” jelasnya.

Pasalnya, seperti juga disampaikan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Manado, dr Ventje Kawengian, bahwa bulan Desember sampai April merupakan saat-saat yang patut diwaspadai menyebarnya penyakit flu serta demam berdarah. Kedua penyakit itu memang sebagian gejalanya sangat mirip dengan Covid-19.
“Nah, gejala-gejala Covid-19 ini kan variatif sekali, dia bisa mirip flu, ISPA (Infeksi saluran pernapasan akut), kemudian hanya menonjol demam-demamnya saja, lalu ada juga bintik-bintik merah di kulit. Sehingga bisa-bisa salah diagnosa dengan demam berdarah. Jadi harus memeriksakan diri ke dokter apabila ada gejala-gejala itu, agar bisa diketahui lebih pasti,” ujar dr Ventje kepada KORAN SINDO MANADO, kemarin.
Ia pun meminta agar masyarakat lebih memperhatikan kesehatan diri saat cuaca ekstrem sekarang. “Bagi pengendara motor, jangan paksakan menembus hujan. Kalau terpaksa, harus pakai mantel hujan. Kemudian sampai rumah langsung cepat mandi dengan air hangat, supaya jangan sampai dapat flu,” kata dia.
“Karena kalau sudah dapat flu, kemudian daya tahan menurut, tidak diminta-minta dapat lagi terjadi koinfeksi (infeksi simultan oleh dua virus) sama-sama dengan Covid-19,” tutur dokter yang juga diketahui melakukan perawatan dan pelayanan kepada pasien Covid-19 di RSUP Prof Kandou itu.
Yang patut juga diwaspadai ialah demam berdarah. Cara pencegahan utama, kata dia, adalah sering membersihkan lingkungan, serta menguras bak mandi serta genangan-genangan yang dapat menyebabkan jentik-jentik dari nyamuk penyebab demam berdarah dapat bertambah banyak.
“Karena ini kalau dari segi dari musim, waktunya, memang sekarang ini musim-musim demam berdarah. Itu secara rutin tiap tahun ada. Masyarakat juga harus menjaga kondisi, antara lain memperhatikan kondisi istirahat dan asupan gizi yang cukup dan seimbang. Asupan gizi ini penting untuk imunitas,” sebut dokter spesialis penyakit dalam itu.
dr Ventje menyampaikan, asupan gizi itu tak harus didapatkan dari makanan-makanan yang mahal, atau yang tersedia di restoran. “Melainkan juga masakan yang dibuat sendiri. Yang penting cukup kalori, cukup karbohidrat, cukup protein, cukup vitamin, cukup lemak. Itu harus berimbang, tidak boleh ada salah satu yang terlalu banyak atau berlebihan,” bebernya.
Sementara, untuk daya tahan tubuh bisa didapatkan dari mineral-mineral dan vitamin. “Tentu itu didapatkan dari buah-buahan, sayur-sayuran, dari situ lah bisa didapatkan,” tukasnya seraya menambahkan bahwa pemerintah harus memperhatikan juga masyarakat yang saat ini tengah terkena musibah, hingga harus mengungsi.

Dikatakannya, masyarakat yang terkena musibah seperti banjir dan berada dalam pengungsian sangat rentan terkena penyakit, sebab dalam situasi pengungsian, resiko terkena penyakit-penyakit itu lebih bertambah. Belum lagi terkena penyakit seperti muntaber dan diare.
“Jadi harus diperhatikan. Walaupun mereka dalam pengungsian, tapi kebersihan, higienisnya harus diperhatikan. Toilet-toilet umum harus disiapkan, air bersihnya harus disiapkan, juga tempat masak umum, itu harus dijaga kehigienisan dan kebersihannya. Sanitasi dan kebersihan lingkungan serta perorangan itu yang perlu diperhatikan,” papar dr Ventje.
Di lain pihak, salah satu korban banjir di Kota Manado yang namanya tak ingin disebutkan mengatakan bahwa dirinya memang sampai saat ini telah banyak menerima bantuan dari pemerintah dan pihak terkait. Akan tetapi, kebanyakan bantuan yang diterima berupa sembako saja.
“Kalau kita sebenarnya juga membutuhkan bantuan seperti masker dan obat-obatan untuk kesehatan, seperti obat untuk gatal-gatal. Soalnya ini kan sudah beberapa hari,” tukas perempuan yang diketahui rumahnya terendam banjir setinggi satu meter lebih itu saat dihubungi pada Kamis (21/1/2021) kemarin.

“Kami juga membutuhkan vitamin-vitamin untuk menambah daya tahan tubuh, imunitas tubuh. Apalagi dengan kondisi saat ini yang mengharuskan kita menjaga imun. Jadi, kita mengharapkan juga bantuan vitamin-vitamin,” terangnya.

Perkembangan Covid-19 di Sulut

Sementara itu, kasus Covid-19 Sulut terus meningkat setiap harinya. Tercatat pada Rabu (20/1/2021) merupakan hari dengan rekor penambahan kasus terbanyak hingga saat ini, yakni mencapai 234 kasus baru. Jubir Satgas Covid-19 Sulut, dr Steaven Dandel menyebut bahwa berdasarkan hasil analisis, penyebabnya adalah dampak dari penularan yang terjadi selama liburan Natal dan Tahun Baru.

“Hal ini bisa terlihat dari sebaran kasus yang cukup meluas ke Kabupaten yang sebelumnya minim kasus seperti Kab. Bolaang Mongondow Utara dan Kabupaten Kepulauan Talaud. Peningkatan kasus yang cukup signifikan di dua daerah ini, bisa terkorelasi dengan mobilitas penduduk yang mudik selama liburan ini,” jelasnya.

“Kasus-kasus yang diumumkan ini adalah mereka yang diambil sampelnya (sampel swab-nya) di minggu pertama dan kedua bulan Januari, sehingga bila ditarik kronologis sesuai masa inkubasi Covid 19 yakni 7 sampai 14 hari, maka infeksi pada kasus yang terlapor hari ini terjadi selama periode liburan ini,” tutur Dandel.

Disisi lain, untuk jumlah keterisian tempat tidur ruang isolasi di rumah sakit (RS) yang ada di Bumi Nyiur Melambai sendiri, sampai saat ini untuk RS Rujukan dan Penunjang Rujukan, berdasarkan data pada 19 Januari 2021 pukul 19.00 WITA untuk jumlah tempat tidur ICU Isolasi kosong terdapat 51 kamar.

“Kemudian jumlah tempat tidur isolasi non ICU yang kosong ada 409 kamar dari total 799, atau masih tersisa sekira 51,19% . Sementara untuk jumlah tempat tidur ICU isolasi Covid-19 yang kosong ada 51 kamar dari 84 kamar, atau masih tersisa sekira 60,71%,” sebutnya. Untuk total RS Rujukan dan Penunjang Rujukan di Sulut sebanyak 18 RS

Total jumlah tempat tidur ICU untuk ruang isolasi Covid-19 di RS-RS tersebut sebanyak 84 kamar. Lalu untuk jumlah tempat tidur Non ICU untuk ruang isolasi Covid-19 berjumlah total 799 kamar. Sementara itu, untuk RS Pelengkap, untuk jumlah total tempat tidur ICU untuk ruang isolasi Covid-19 berjumlah 27 kamar.

“Dimana presentase tempat tidur ICU yang kosong itu 3% atau sebanyak 18 kamar. Lalu untuk jumlah total tempat tidur untuk ruang isolasi Covid-19 di RS pelengkap ada 565 kamar, dengan jumlah presentase tempat tidur yang kosong adalah 45,49% atau sebanyak 257 kamar,” terangnya. Untuk total RS pelengkap di Sulut ada sebanyak 21 RS.

Sementara itu, pada Kamis (21/1/2021) ini Sulut ketambahan 92 kasus baru sehingga jumlah total kasus korona di Sulut mencapai 11.930 orang, dimana 8.464 orang diantaranya telah dinyatakan sembuh, 375 orang meninggal, dan 3.091 orang merupakan kasus aktif yang sementara dilakukan pemantauan ataupun perawatan.

“Angka Kesembuhan Covid 19 di Sulawesi Utara per 21 Januari 2021 adalah 70,94% dan Angka Kematian (Case Fatality Rate) sebesar 3,14%. Kasus aktif sebesar 25,92 %,” kunci Dandel. (Fernando Rumetor)