Peluang Kerja ke Jepang Terbuka bagi Masyarakat Sangihe

oleh -
Bupati Kepulauan Sangihe Jabes Ezar Gaghana. (FOTO: Istimewa)

TAHUNA- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sangihe telah menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) untuk mengirim tenaga kerja asal Sangihe ke luar negeri.

Peluang terbuka khusus bagi anak-anak muda Sangihe yang berkerinduan bekerja di Jepang. Hal itu dikatakan Bupati Kepulauan Sangihe Jabes Ezar Gaghana, belum lama ini. Kata Gaghana, pihaknya telah melakukan sosialisasi peluang kerja di Jepang pagi generasi muda Sangihe.

“Ini merupakan peluang sangat baik bagi warga Sangihe yang ingin bekerja di Jepang, karena selain bisa mendapatkan penghasilan fantastis, warga Sangihe yang telah bekerja di Jepang bisa mengekspansi kecanggihan teknologi industri yang dimiliki negara itu, untuk kemudian bisa diterapkan di Sangihe jika masa kerjanya sudah berakhir. Artinya pengalaman kerja yang diperoleh, bisa dikembangkan di daerah kita,” ujar Gaghana.

Lanjut Gaghana, untuk kerja ke Jepang Pemkab juga menjalin kerjasama dengan PT. JGEC kesempatan serta peluang untuk bisa bekerja ke Jepang sangat terbuka lebar bagi warga Sangihe, sebab terobosan pemerintah daerah dalam mencari lapangan pekerjaan bagi warga seperti ini legalitasnya dijamin oleh negara karena proses rekruitmennya dibawah pantauan pemerintah bukan agen yang kerap bermasalah.

Kemudian. legalitasnya adalah dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Bupati Sangihe dengan Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Ramdani, di Jakarta, pada tanggal 29 Maret 2021, dimana salah satunya adalah kesempatan bekerja di Jepang.

Olehnya, Bupati Jabes Gaghana mengajak seluruh warga lebih khusus para generasi muda untuk memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini, dalam meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Namun, begitu Gaghana mengingatkan bagi mereka yang telah bekerja di Jepang agar tetap menjaga nama baik Bangsa Indonesia dan harus mematuhi setiap aturan negara tersebut.

Menurut bupati, Sangihe merupakan Kabupaten Konservasi yang tidak memiliki pabrik dan industri besar seperti di daerah lain, sehingga tidak ada lapangan pekerjaan. Pun kalau ada invostor yang hendak membangun industri di Sangihe, harus ramah dan berwawasan lingkungan.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sangihe, Dokta Pangandaheng dalam laporannya menjelaskan intinya bahwa sebelum berangkat ke Jepang, semua calon pekerja akan mengikuti proses pelatihan, salah satunya adalah belajar bahasa Jepang. Kegiatan ini sebagai bentuk keberpihakan pemerintah bagi warga Sangihe dalam upaya meminimalisir masalah pengangguran, pengentasan kemiskinan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Apalagi saat pandemi covid 19 seperti saat ini, para pengusaha lokal dan nasional melakukan penghematan, sehingga berbagai rencana investasi di daerah tertunda. Peluang kerja ke Jepang ini sebagai bentuk kepedulian bupati, untuk mengurangi angka pengangguran dan penciptaan lapangan kerja baru. (Andy Gansalangi)