Ini Kronologi Anak Plt Kajati Sulut Diduga Diserang Tawon di Kebun Tondano

oleh
Jenazah korban saat berada di RS Tondano. (FOTO: Istimewa)

TONDANO – Bermaksud datangi kebun keluarga untuk memanen sebagian tanaman cabai, tepatnya di perkebunan baris Kelurahan Watulambot Tondano Barat, Kabupaten Minahasa putra Plt Kajari Sulut, Alm Bryce Runtu diduga diserang Tawon (Serangga Terbang), Senin (17/01/21).

Putra dari Plt Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulut Freddy Runtu itu mendatangi kebun tersebut bersama ayah mertua serta sepupuhnya dan seorang sopir. Setiba di lokasi keempat orang tersebut langsung memanen cabai namun seketika korban Bryce diserang ribuan Tawon yang datang entah dari mana.

Korban berteriak meminta tolong kepada yang lainnya. Mendengar teriakan korban , spontan mertua dan sepupunya bersama sopir lari membantu korban, namun ribuan Tawon sontak menyerang mereka bahkan mertua Bryce tak luput juga dari sengatan Tawon ganas itu hingga tak sadarkan diri.

Beruntung sepupu korban lari dan masuk berlindung dalam kendaraan yang di parkir tidak jauh dari lokasi. Sopir korban juga lari terbirit-birit menyelamatkan diri ke jalan raya menuju arah perkebunan rurukan.

Menurut pengakuan Jhon Runtu, 66, yang juga paman korban bahwa korban Bryce sempat menelpon sesaat setelah kejadian dimana dia dan lainnya diserang Tawon tersebut sehingga pamanya pun langsung menuju lokasi dan memanggil anaknya Piere Runtu untuk menyusul ke lokasi kejadian.

“Setiba di lokasi korban sudah tergeletak di jalan dengan posisi ratusan seranggan tawon masih menempel di tubuh korban dengan sigap dia membakar daun kering agar tawon tersebut menjahui tubuh korban,” ujar Jhon.

Kemudian dirinya mengangkat korban yang sudah lemah sambil mengajak korban bicara namun korban Bryce sudah tak sadarkan diri.

Kejadian ini cepat diketahui sebagain warga setempat dan membantu menolong para korban lainnya untuk dilarikan ke Rumah sakit di Tondano .

Setiba di Rumah Sakit Sam Ratulangi Tondano sekira pukul 16.00 WITA, Bryce Runtu sudah meninggal dunia dalam istilah medis korban Kaku mayat. Hal itu diungkapkan dokter Ekawati yang menangani korban saat itu. (Tika Balo)